Minggu, 03 Desember 2017

Saat Hujan Turun, Badai Datang

Kau yakin dunia tidak memihak padamu? Semua harapanmu kandas? Benarkah? Yakinkah? Bagaimana jika kamu salah? Atau bahkan benar? Baiklah.

Lalu, apa yang kau ucapkan saat hujan turun? Apa yang kau katakan saat matahari terik? Apa yang kau rasakan, seandainya tidak ada matahari? Tidak ada hujan? Baiklah.

Bagaimana jika kamu salah? Maksudku semua harapanmu itu. Harapan itu tidak pernah kandas sedikitpun, dunia itu baik. Dunia tidak memihakmu bukan berarti dunia jahat.

***

Lahir disebuah keluarga sederhana adalah anugerah bagiku. Disudut kota, rumah sederhana inilah yang menjaga kami dari serangan cuaca, juga menjadi saksi bisu akan segala tawa, tangis, amarah dan memaafkan. Semua terlahir begitu saja, mengikuti aliran air. Tanah yang ditanami berbagai macam sayuran dan tanaman hias, menjadi bukti bahwa inilah tempat yang subur. Ketika waktu berlalu, terus berjalan, atau bahkan berlari, banyak orang yang tidak sadar diri, mungkin juga aku?

Hari itu sangat cerah, langit biru terlihat jelas, angin sepoi-sepoi membelai siapa saja yang dilewatinya. Seandainya aku tau. Hal terberat adalah ketika aku harus memutuskan sesuatu hal yang harus aku putuskan, dengan semua desakan yang membuatku sesak. Layaknya seseorang yang diam di luar angkasa, oksigenpun tidak ada. Aku ingin berlari melupakan dunia, aku tidak ingin mengingatnya, itu terlalu banyak. Hal kecil yang aku inginkanpun harus aku buang jauh ke dasar samudera. Walau akhirnya akan aku temukan lagi ketika berlayar. Kini aku tidak tau kemana arah langkahku. Setiap saat aku termenung.

Jalan manakah yang harusnya aku tempuh? Sungguh semua ini adalah kebingungan yang menyesakkan. Mungkin aku butuh istirahat untuk kemudian berlari mengejar semuanya. Aku ingin mendekat.. mendekat sedekatnya.. ada perasaan yang tidak bisa aku jelaskan dan ada cinta yang selalu ingin aku usahakan.

"Dyah..." sebuah teriakan yang mengejutkanku.
"Yaa? Ada apa? Kenapa?" Jawabku cepat.
"Kebakaran......" ujar Sandy.
"Dimana?????" Tanyaku heran.
"Yasalam... sepolos itu kah kamu?"
"Memangnya ada a.."
"Ssstttt sudahlah lupakan." Sandy memotong ucapanku.
"Tapi San.."
"Stttttt ayo pulang."
"A...."
"Stttt udah udah ngga ada apa-apa haha." Tawanya.
"Dasar jahat.." ucapku.
Sandy hanya tertawa puas.

Aku menatapnya penuh keheranan. Ia menarikku begitu saja, akhirnya kamipun pulang bersama. Disepanjang perjalanan aku layangkan pandanganku ke langit menatap sang surya yang sangat menyilaukan. Seharusnya sekarang sudah masuk musim penghujan, lirih hatiku. Kembali aku tatap Sandy yang berjalan di depanku. Ada sesuatu yang ia sembunyikan, pandangannya berubah sejak hari itu. Ya, hari itu.

Rumah kami berjarak cukup dekat, hingga kami selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Terkadang orang menganggap kami seperti sepasang kekasih, sejujurnya saja, canda dan tawa yang selalu menghiasi perjalanan kami adalah sebatas hiburan antara kami, tidak ada yang lebih spesial dari persahabatan kami. Ia seolah kakakku yang selalu memaklumi kepolosan dan kekonyolanku, entah apa yang akan terjadi.

Hari berlalu, pagi demi pagi kami lalui, hingga bertebaranlah jadwal ujian akhir kenaikan kelas. Aku dan Sandy duduk di bangku kelas 11 sebuah SMA negeri favorit diwilayah kami. Dengan lingkungannya yang sejuk dan rimbun pepohonan, menyejukan mata yang meneguk pemandangannya. Mungkin bagi Sandy aku adalah sesosok wanita yang paling polos di sekolah itu. Banyak sekali siswi yang menyukai Sandy, selain pandai dan ya, menurutku cukup tampan tspi entahlah, ia juga pandai menyentuh hati dengan alunan suaranya ketika mengaji, tidak kaget juga bila ia memang memiliki suara yang indah saat menyanyi. Aku dan Sandy tidak satu kelas, aku memilih kelas IPA dan ia IPS, begitulah gurupun terkadang aneh kepada kami.

Hingga hari itu, aku lihat Sandy bertengkar dengan sekelompok orang yang tidak jelas darimana asalnya. Saat kami masih merupakan siswa/i kelas 10.

Sekolah mulai sepi, satu persatu insan yang ada didalamnya pulang terburu-buru. Gerimis... aku yang masih duduk di bangku kelasku terus mengutak-atik soal matematika, seraya menunggu Sandy. Sampai aku tidak menyadari sekolah sudah kosong dan handphone-ku berbunyi, yang aku sadari hanyalah gemercik air hujan yang mulai deras dan membuatku khawatir. Muncullah keinginan untuk menghubungi Sandy. Saat itu aku lihat sebuah pesan.
"Pulanglah duluan, sampaikan pada ibu dan ayahku, aku pulang terlambat." Apa? Tanyaku dalam hati. Lalu untuk apa aku menunggu selama itu? Akupun segera memasukan semua peralatanku dan dengan rasa marah serta kecewa aku keluar kelas. Berjalan melalui lorong-lorong sekolah yang gelap, hujan terus mengguyur. Aku sangat marah kepada Sandy, setega itu dia.

Saat aku menyusuri lorong sekolah, nampak sekumpulan orang di tengah lapangan upacara yang tidak begitu luas itu. Mereka melingkar dan seperti sedang berbicara sesuatu, aku ingin menghampirinya, siapakah orang yang sedang mereka marahi. Inikan sekolah bukan tempat adu kekuatan. Angin menerjang kencang, mendorongku untuk menjauh. Namun sama sekali tidak aku dengarkan, saat aku mulai mendekat, mereka menyadari keberadaanku, dengan seketika aku terdiam, menatap pasang mata itu. Lalu mereka mendekat ke arahku. Saat itulah aku tau ternyata mereka tengah berdiskusi. Apa? Di tengah lapang? Saat hujan? Apa mereka sudah kehilangan tempat untuk berdiskusi? Angin berlari melewati kami. Tiba-tiba, ada orang yang menarikku lalu berlari.
"Sandy....?" Tanyaku heran.
Ia tidak menjawab apa-apa, namun terus menarikku ke arah parkiran kendaraan dan membawaku pulang.
"Aku sudah bilang, agar kamu pulang dengan segera, apa kamu tidak paham?!" Ujarnya.
Aku terkejut seketika, tidak biasanya nada bicaranya seperti itu.
"Aku hanya penasaran.." jawabku lirih.
"Apa kamu tidak bisa menurut sekali saja? Haruskah?" Tak ada senyum seperti biasanya.
"Tapi San.."
"Cukup, mulai sekarang pulanglah duluan jangan pernah menunggu sekolah sepi."
Aku tidak mampu berkata apa-apa. Sandy, apa yang kamu sembunyikan? Tanya hatiku.

Sepanjang perjalanan pulang ia tidak berkata apa-apa, jiwanya yang ramah telah hilang entah kemana. Pikiranku melayang, apa yang sebenarnya terjadi. Hujan kian lebat, badanku menggigil. Sandy memang tidak biasanya sejak saat itu, kini ia begitu dingin pada semua orang. Walaupun secara akademik tak ada yang berubah, ia tetap siswa yang cemerlang, namun kalian tidak tau bahwa ia berubah, berubah semakin jauh dan jauh. Aku tidak mengerti.

Sejak hari itu ia menghilang, tidak pernah ada lagi kontak denganku. Aku menjalani hari yang begitu aneh, aku iri pada awan-awan yang berlarian bersama-sama walaupun salah satu dari mereka berubah. Aku iri pada bumi yang selalu mendapat cerita dan hangat dari sang surya. Hari demi hari ia semakin menjauh dan kian jauh. Apa yang harus aku lakukan.

Hari itu, saat burung-burung bernyanyi dengan gembira, saat bunga-bunga bermekaran, dan kumbang-kumbang menari dengan ceria. Sinar matahari mendekapku dengan lembut dan hangat. Tapi, ada apa dengan hatiku? Badai itu, ya badai itu masih memenuhi hatiku. Mungkin kantin tempat yang bagus. Yups. Ayo ke kantin.

Kakiku menyusuri jalan dan lorong ke kantin, ya, aku tidak sendiri, aku pergi bersama ketiga temanku, mereka tertawa, bercerita dan begitu hangat. Namun, hatiku telah membeku. Aku tertawa tapi tidak hatiku.

Angin mengalun lembut membelai pundakku. Saat itu aku lihat Sandy tengah duduk di lorong sekolah, ia melihatku namun tidak ada sepatah kata atau sekedar lambaian tangan. Sungguh ini keterlaluan. Teman kecilku, sahabatku telah hilang. Aku kesal, marah dan benci. Semudah itu kah ia melupakan kawannya sendiri? Baiklah, akan aku lakukan hal yang sama. Ingat itu.
***
Hah, apa yang terjadi. Setelah sekian lama aku sudah tidak mampu lagi menahan semuanya. Pada kenyataannya aku tidak mampu melakukan apa yang ia lakukan padaku. Pesta kelulusan tiba. Sekolah diliburkan, gedung besar itu dihias sedemikian rupa, dari sudut kiri ke kanan dipenuhi oleh hiasan-hiasan pesta. Panggung bak pelangi itu siap menyajikan hiburan yang meriah. Seluruh siswa berbicara perkara kuliah. Hah.. sudahlah. Aku sama sekali tidak bahagia. Bukan, bukan karena aku tidak diterima kuliah, aku sudah, hanya saja ada hal yang harus ku selesaikan. Kenapa dunia tidak memihakku?

Seketika itu mataku tertuju pada sesosok yang tengah berlari kencang, nafasnya menderu sesak. Tanah berguncang karena hentakan sepatunya. Jas yang ia kenakan begitu tidak beraturan.
"Sandy..." teriakku.
"Dyah.. mau kemana? Tunggu kamu tidak boleh pergi. Dyah kami mohon." Ujar temanku seraya memegang tanganku.
"Lepaskan. Sandy tunggu.." teriakku lagi, sambil berlari.
"Dyah.." teriak teman-temanku.
Langkahnya seketika berhenti, dengan susah payah aku berlari kearahnya, sepatu high heels ini membuatku jengah. Ia berbalik seraya memeluku.
"Maafkan aku.." air matanya membanjir.
"Aku tau kamu begitu membenciku, tapi aku mohon aku tidak bisa lagi, aku tidak sanggup lagi jangan membenciku, aku harus pergi." Tangisnya tidak berhenti.
"Apa maksu...." kataku terpotong, saat ia menarikku kebelakang tubuhnya. Dan dia menghadang anak-anak itu. Dan... ia masih bersih keras membelaku. Menarikku berlari sejauh mungkin.
Diujung jalan ini, dibawah pohon yang rindang ini. Ia berkata..
"Aku mohon, pergilah, jagalah dirimu baik-baik kamu tidak boleh terlibat, aku tidak ingin kamu celaka lagi. Suatu hari aku akan menjemputmu, tumbuhlah dengan cantikmu. Tunggulah aku."
"Pergilah.. biar ini menjadi urusanku." Sambungnya.
Ya, seperti yang aku tau, dia Sandy sangat populer, banyak primadona sekolah yang menyukainya, termasuk adik dari orang yang mengejarnya itu. Saat itu dia membelaku, saat berkelahi itu, ia menolongku. Saat itu aku tau, dia menjauh untuk melindungiku dari semua ini.
Terakhir aku tau, bahwa ketiga temankupun mengetahuinya. Kenapa hanya aku yang tidak tau? Bahaya yang mungkin menimpaku? Aku salah, aku telah jahat pada dunia. Dan aku salah telah membenci orang yang dengan tulus menjagaku. Maafkan aku~

Jumat, 14 April 2017

Itu Keputusanmu

Aku tak tau apakah itu benar ataukah tidak? Aku tak pernah mendengarnya. Yang aku dengar hanyalah desisan angin. Aku tak bisa menyapanya bahkan berkata padanya, seandainya langit mendung itu bermakna cerah.

Pagi yang dingin ini memintaku untuk bangun, matahari belum terlihat, sang bulan mulai menguap, bintang-bintang berkedip cepat diantara hamparan langit biru tua itu. Angin mulai bermain-main dengan pepohonan. Aku penasaran apakah pohon itu kesal ataukah tidak. Daunnya yang hijau selalu berhasil digugurkan sang angin. Ia berterbangan mengikuti sang angin dan menghiasi tanah.

Matahari mulai malu-malu, cahaya oranyenya menyeruak memecah kegelapan. Sang bulan mulai lelap diperaduannya, cahaya sang bintang terkalahkan oleh sinar lembut matahari. Burung mulai ribut, entah apa yang mereka bicarakan.

Mataku tertuju pada dua orang anak kecil. Pagi buta seperti ini mereka sudah berlarian. Kaki-kaki mungil itu meninggalkan jejak diatas tanah hitam yang gembur. Mereka berjalan beriringan menembus hutan yang gelap. Baju yang mereka kenakan mulai kusam, dipadukan dengan tas kecil berisi sebuah buku, satu pensil dan penghapus. Ya, mereka tengah berjuang menghadapi hidup ini. Namun senyum mereka begitu manis dan ceria seolah beban itu tak ada. Bahagia sekali.

Bunga-bunga bermekaran, berpesta dengan sang kumbang. Merah, putih, merah jambu, semua warna menghiasi jalan kecil yang selalu ramai. Mereka tersenyum pada siapapun yang melalui jalan itu.

Saat matahari mulai sejajar di atas kepala, dua anak itu pulang. Disana ada seorang wanita yang mulai renta, dia berkata "Sekolahlah, agar masa depan kalian lebih baik." Sambil mengelus lembut rambut dua anak itu. Mereka tersenyum gembira, walau perjalanan ke tempat menimba ilmu sejauh mata memandang dengan fasilitas seadanya, mereka masih mau berjuang. Walaupun hidup mereka tak semudah dirimu. Akankah kau menyia-nyiakan kesempatanmu begitu saja? Akankah kau bermalas-malasan dengan kemudahan yang kau dapatkan? Begitukah? Itu keputusanmu.