Senin, 28 Desember 2015

Alunan Kerinduan

Surya mulai tenggelam, bersama alunan lembut sang angin dan cahaya jingga yang berpendar indah. Burung-burung berbisik menceritakan harinya, kupu-kupu bersembunyi di balik dedaunan. Hiruk pikuk manusia mulai menurun. Cahaya jingga itu menatap sang awan lalu berkata tulislah kisah malam ini. Satu per satu bintang dipanggilnya. Sang bulan pun tidak luput dari senyumnya.
Cahaya malam yang indah. Menyelimuti lamunan di sebuah desa kecil. Sebuah rumah panggung berdinding kayu dengan atap dari dedaunan pohon kelapa yang dianyam rapi. Tanah lapang yang dihiasi obor menatap syahdu sang bulan. Langkah kaki anak kecil menjadi musik sendu kala itu. Bruk... ada yang jatuh. Semua mata terbelalak, hati berdegup kencang, langkah tersendat, tenggorokan haus. Angin menerpa seluruh sukma. Sebuah kelapa tua.
Semua tertawa dan kembali bernyanyi, berlari, berkejaran. Bermain permainan tradisional. Alangkah indah. Sang purnama tersenyum. Lampu obor menari diterpa angin. Rumput hijau tidak pernah marah walaupun diinjak. Bunga kecil tidak pernah risau walaupun dipetik. Harum malam batik semerbak. Anak kecil berlarian, mengejar harum malam batik itu.
Bintang-bintang masih tersenyum, satu per satu anak kecil itu menguap. Pulang dari permainan mereka. Malam semakin larut, gesekan daun kelapa menjadi musik pelepas rindu. Dingin menyeruak dari sela-sela dinding kayu. Purnama semakin terlelap, hingga adzan berkumandang. Kembali anak-anak kecil itu berlarian ke arah rumah panggung semalam. Menggelar sajadah mereka, bertumpu pada sujud memohon hari yang bahagia. Satu per satu anak maju, membaca ayat-ayat cinta dari Sang Pencipta.
Kilau sang surya menari-nari dipantulkan air yang jernih. Cahaya oranye itu bercampur baur dengan cahaya hijau sang embun. Anak-anak itu kembali berlari. Meniup satu per satu obor disana. Lalu kembali bermain. Angin membelai mereka. Anak-anak perempuan kembali ke pelukan ibu mereka, sekadar membantu mengepel dan mencuci. Anak-anak laki-laki berlarian ke arah sungai, menenggelamkan diri dalam kehangatan tawa. Menangkap ikan. Ya, itulah mereka.
Hari demi hari berlalu. Hanya angan yang tetap melayang jauh ketengah samudera rindu. Malam ini aku merindu. Rindu yang sunyi, sangat senyap.
"Dyah.." sebuah suara yang membangunkanku dari angan kerinduan. Ya, aku Dyah begitu aku dipanggil. Dyah Arum. Kini aku tengah beranjak dewasa. Aku tinggal disebuah desa kecil di sudut kota. Rumah bercat biru laut dengan hiasan bunga-bunga merah yang harum.
"Iya, bu.." jawabku bergegas ke arah ruang keluarga.
"Bantu ibu menyelesaikan ini!" Pinta ibu sambil menyerahkan adonan kue tradisional. Aku hanya tersenyum seraya mengerjakannya. Setelah selesai aku bergegas beristirahat.

***
Adzan berkumandang, aku rindu alunan lembut ayat-ayat cinta Sang Pencipta dialunkan anak-anak itu. Aku rindu saat mereka bermain dan menarikku bersama mereka.

Matahari menyapa lembut. Hari ini, hari libur panjang, sepanjang jalan kerinduanku. Aku harus bergegas membantu ibu membawa kue buatan ibu yang khas kepada pemesan.
Aku keluar rumah dengan sepasang sendal berwarna merah jambu, rok hitam panjang, kemeja berwarna ungu dan kerudung yang selaras dengan warna baju yang aku kenakan. Sebuah tas anyaman berisi macam-macam kue aku pegang erat. Sepanjang perjalanan aku tatap hamparan sawah yang semakin membawaku larut dalam kerinduan.
Hari itu, jalanan selalu ramai orang-orang berjalan. Anak kecil bermain, terkadang mereka meminta kue yang aku bawa. Tanpa ragu aku selalu membagi kue kepada mereka. Lalu mereka berlarian memetik bunga kesukaanku.
Kini, jalanan telah sepi, kendaraan bermotor sesekali lewat. Angin menerpaku, kembali aku terbang.
Saat itu, selalu ada anak kecil yang bermain di sawah, mencari keong dan ikan untuk dimasak oleh ibunda mereka. Selalu ada mata yang aku tatap lalu menjelaskan kebahagiaan.
Namun, suasana telah berbeda, atmosfir telah berubah, kini semuanya sunyi. Anak-anak itu pergi, pergi ikut orang tua mereka ke kota besar. Hanya tersisa beberapa anak yang mulai sunyi untuk bermain.
Saat malam datang, aku tau sang bintangpun merindu. Rindu akan canda tawa. Saat siang menjelma, aku paham sang suryapun menyampaikan cahaya rindu. Saat angin berlari menerpa awan, aku melihat alunan kerinduan,

Senin, 21 September 2015

Edisi Cinta Campur-campur

Cinta adalah sebuah kata yang ambigu untukku. Arti cinta sangatlah beragam tergantung orang yang memandangnya. Aku sendiripun terkadang bingung harus mengartikannya sebagai apa. Jelaslah semua butuh ketulusan, sebagaimana arti cinta dari sosok wanita yang menjadi malaikat di dunia ini, siapa lagi kalau bukan seorang ibu. Cinta ibu adalah cinta yang mengalir sepanjang hayat.
Hatiku takut dan bergetar kala aku melihat sesuatu, rasanya aku ingin menangis, kapan aku bisa berubah sepenuhnya? Menjadi pribadi yang baik, aku takut kala membaca qalam-Nya saat azab-azab pedih yang akan ditimpakan, tapi akupun tanpa sengaja melakukan kesalahan yang sama.
Lupa, ya.. lupa adalah sebuah anugerah, karena apa? Menurutku dengan adanya lupa kita mampu melupakan semua kesalahan orang lain sehingga kita terus mampu memaafkan, namun sayangnya saat kita berbuat seribu kebaikan, hal itu akan hancur karena satu keburukan.
Entah apa yang menjadi pandangan orang-orang, bukankah melakukan kesalahan itu wajar? Karena manusia tidak sempurna dan membutuhkan bimbingan bukan judge yang tidak jelas.
Kawan, aku bertemu dengan sosok-sosok yang sangat menerima kondisiku, yang tidak mencariku dimasa laluku. Inikah? Sebuah ketulusan seorang teman? Walaupun wajah sama sekali tidak pernah saling memandang, namun ketulusan mereka selalu terasa. Walaupun dengan sedikit kekhawatiran dan ketakutan akan apa yang aku alami saat bersama kalian.
Aku memiliki pertanyaan untuk kalian kawanku. Kawan apakah saat aku melakukan sebuah kesalahan kalian men-judge-ku dengan aneh? Atau mungkin saat aku jatuh kalian mendapatkan penilaian yang menyakitkan untukku? Apakah kalian menjauh? Kawan? Aku hanya berharap kalian adalah kawan yang sesungguhnya yang tidak peduli seberapa dalam aku jatuh, tapi kalian akan terus memotivasiku untuk bangkit? Akan kah kalian melakukan itu? Aku percaya arti cinta yang tulus. Jika kalian memang tidak ingin lagi behubungan denganku, biarlah aku tetap meminta kalian untuk membimbingku mendekat kepada Rabb-ku, walau tanpa kalian sadari.
Ada yang mengatakan 'Lupakanlah semua kejahatan orang-orang kepadamu, dan ingatlah selalu kebaikannya. Serta lupakanlah semua kebaikanmu kepada orang lain tapi ingatlah keburukanmu kepada mereka.'
Aku yakin bahwa cinta menyelimuti sesama jiwa kita. Walaupun tidak sebesar cinta seorang ibu kepada anaknya, tapi aku berharap bahwa cinta itu terus tulus dan ada bersama kita. Bolehkah? :) tolong jangan pergi dan menjauh dan tolong kalian yang barupun tetap menjadi kawanku.

Kamis, 10 September 2015

Inilah Bait ke-18 Tahun

Malam memang gelap, tapi malam sangatlah indah. Orang-orang mengibaratkan kesedihan dengan awan kelabu, tapi aku pikir kesedihan itu adalah hal yang gelap dimana aku tidak dapat melihat lagi keindahan-keindahan yang akan terjadi, saat hatiku meronta dan tidak akan pernah ada yang tau. Bukan gelap sang malam yang dihias bintang atau awan mendung dan hujan. Tapi gelap dimana aku berteriak tidak akan ada lagi orang yang mendengarnya selain diriku sendiri serta Tuhan. Jeritanku adalah angin sunyi sang malam, yang diam-diam meronta namun tidak nampak. Orang bilang, dihargai sangatlah indah serta dapat meningkatkan percaya diri.
***
Aku bertemu sang hujan, anginnya yang kencang mengobrak-abrik seluruh hal yang dilaluinya, bak topan yang paling ganas. Seolah mentari tidak ingin lagi bersinar, rasa lelah, hanya rasa lelah yang menyelimutinya. Mentari itu tidak ingin berbicara karena dia selalu diabaikan. Mungkin aku hanyalah setangkai bunga kecil di jalan raya, tidak dihargai dan hanya dilalui bahkan nyaris terinjak. Sakit, namun aku tidak bisa berteriak karena aku hanya setangkai bunga kecil yang tidak nampak.
Hingga suatu saat ada seekor semut yang menghampiriku, menyemangatiku, dan tanpa peduli keluh kesahku. Ia mampu menatap jeritan hatiku saat daun di tangkaikupun tidak mampu lagi. Ia bercerita bahwa ia sangat 'payah', kata-kata yang mungkin kasar untukku walaupun aku hidup dijalanan ini.
"Kau tak seharusnya berkata seperti itu!" Tegasku padanya.
"Tapi itulah kenyataannya." Lirih sekali suaranya.
"Kenyataan apa? Kau tidak patut bicara begitu." Ucapku.

Untunglah itu hanya rangkaian huruf, bukan bahasa mataku. Jeritan hati yang aku sembunyikan justru membuatku sangat gelisah. Aku hanya mampu menangis kala itu. Entah.. entah siapa yang akan mengerti bahwa aku hanya ingin dihargai bukan disalahkan. Terkadang aku berpikir yang mungkin cukup gila. 'Untuk apa aku dilahirkan dan hidup? Apakah aku bagian dari tokoh cerita ini? Yang aku tau, aku hidup untuk mati dan menjalankan kehidupan setelahnya.'
Penghargaan? Mungkin aku nyaris tidak pernah tau rasanya. Bagaimana rasanya saat kamu dihargai? Didengar? Dihormati? Disayangi? Yang aku tau hanya air mata, takut dan gelap. Aku hanya hapal sebuah perasaan dimana aku dibedakan, disisihkan. Hingga aku takut sekali memperlihatkan bakat yang ada dalam diriku. Sebuah ketidak percayaan diri. Tanganku terlalu lemah untuk menggandeng mereka, langkahku mungkin terlalu lamban. Aku tidak mengerti dengan kehidupan ini.
Sejujurnya, aku ingin mengungkapkan semua yang aku rasakan, dimana hati terasa tabu, udara terasa menusuk-nusuk. Bolehkah aku bertanya? Dimanakah qalbu setiap manusia untukku? Tuhan, cerita apakah yang Engkau sediakan untukku yang sangat lemah dan penuh dengan dosa. Aku tidak pernah sanggup mengatakannya, mengatakan apa yang aku rasakan dan apa yang aku inginkan.
Tuhan, aku yakin Engkau tidak pernah lelah mendengar keluh kesahku. Akupun yakin Engkau sedih ketika melihatku menangis, namun Engkau yakinkan aku untuk terus berjuang menapaki sisa jalan hidupku.
Pantaskah aku? Di bait ke delapan belas tahun puisiku ini aku berkata seperti ini? Maafkanlah aku, Tuhan. Yaa Rabbi, ampuni aku, karna aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Justru orang diluar keluarga kandungkulah yang mendukungku, walaupun aku tidak pernah tau ketulusan mereka tapi semoga mereka benar-benar tulus Yaa Rabbi. Bukan karna merasa tidak enak padaku. Terimakasih Yaa Rabbi kala aku mulai merasa lelah, Engkau hadirkan mereka.
Terimakasih Yaa Rabbi, kala tangkaiku melemah, Engkau datangkan hujan.
Terimakasih Yaa Rabbi, kala aku merasa kesepian, Engkau hadirkan semut untuk menemaniku.
Terimakasih Yaa Rabbi, kala sang daun menjauh, Engkau datangkan kumbang.
Terimakasih Yaa Rabbi, dibait kedelapan belas tahun ini semoga menjadi jalan indah dibait tahun mendatang.

Senin, 31 Agustus 2015

Orang Asing yang Tidak Asing

Sudah lama.. aku ingin berbagi.

Sungguh hidup ini penuh kejutan, dan kejutan terindah adalah saat aku menemukan orang-orang yang bersedia bertahan bersamaku dalam keadaan sesulit apapun. Telah lama berjalan menapaki semua tanah yang subur dan gersang hingga lelah kini sirna, mereka hadir penuh kasih sayang. Saat semua sifat serta sikapku yang aneh mereka terima dengan lapang dada, saat tangisku membanjiri dunia mereka hadir penuh motivasi, saat hatiku menjerit memecah lautan mereka hadir merangkulku.

Ya Rabb, sungguh indah cara-Mu mempertemukan kami. Memeluk kami untuk saling menyemangati dan merangkul. Kuatkanlah ikatan hati kami walaupun wajahpun kami tidak saling mengenal. Tapi aku merasa bahwa mereka bukan orang asing. Saat mereka berkata "Yakinlah bahwa rencana Allah lebih indah" aku tersadar. Saat kawanku yang sudah jelas aku kenal pergi menjauh, Engkau pertemukan aku kepada mereka, dengan penuh kasih sayang.

Yaa Rabb, saat kekecewaan menyayat hati kami, buatlah ikatan ini semakin kuat, buatlah kami semakin mendekat dan lebih dekat lagi pada-Mu.

Aku ingin menangis penuh penyesalan, ya.. penyesalan yang tidak kunjung sirna dimana semua kebodohanku yang menganggap dunia tidak adil tanpa melihat berjuta kasih sayang-Mu Ya Rabb.

Aku telah salah membiarkan kekecewaan menyelimuti, aku tersentak, aku tersadar, semua hal yang pergi akan terganti. Rencana Rabb-ku lebih indah dan itu benar. Biarlah Allah yang menjawab semuanya, yaa.. entah itu sebuah pertanyaan, hinaan, cacian, cinta, persahabatan dan segalanya.

Terimakasih Yaa Rabb..
Terimakasih mamah..
Terimakasih ayah..
Terimakasih kakak-kakakku..
Terimakasih kawan-kawanku..

Aku kini tau orang-orang yang benar-benar menyayangiku..

Terimakasih Yaa Rabb..
Terimakasih Mamah.. Ayah.. Aa.. Teteh..
Terimakasih kawan-kawanku yang telah lama aku kenal..
Terimakasih kawan baruku... Kalian orang asing tapi tidak asing kata hatiku.

Kamis, 23 Juli 2015

Mawar Putih di Tengah Hutan

Hari-hari semakin berlalu. Saat angin berubah haluan dan saat hujan digantikan. Dedaunan berkibaran berwarna hijau, melambai-lambai menyapa setiap orang. Wajah langit kini berdasar biru cerah dengan setitik awan yang menunggu angin. Surya sudah tidak malu-malu lagi membagikan cahayanya, tumbuhan giat berfotosintesis, kupu-kupu tertarik untuk beterbangan berbaur dengan jenisnya yang lain, burung-burung dalam sangkar bernyanyi menyambut sang surya, merpati bergerombol terbang menuju arah selatan. Musim panas....

Seorang anak kecil berbaju merah muda, warnanya sudah lusuh, tingginya seperti anak kelas 4 SD pada umumnya, ia menatap sendu sang surya, kaki-kaki kecilnya mulai mempercepat langkahnya. Angin pantai menerpa dirinya, ombak berkejar-kejaran. Jejak kaki mungilnya mulai menghilang dihapus angin. Pohon kelapa melambai padanya, pohon bakau menari-nari, alam mengajaknya bermain, anak kecil itu hanya menunduk, memperhatikan ibu jari kakinya.

Sebuah hutan yang rimbun mulai nampak, alangkah hijaunya. Cahaya menyelip diantara celah-celah yang dibentuk pepohonan walau daunnya sesekali bergerak dan jatuh ke tanah. Anak-anak lain yang seusianya tengah bermain, membentuk istana pasir atau sekedar berenang di pesisir pantai. Cahaya hijau itu yang akan menemani langkah kaki anak kecil itu, menyusuri hutan, menemukan setapak jalan kecil untuk berlari. Angin berhembus mesra membelai rambutnya yang diikat satu dibelakang, menggoyangkan dedaunan.

Sang surya terus meninggi, anak kecil berbaju merah jambu lusuh itu masih tetap berjalan. Entah.. entah kemana ia ingin pergi. Entah.. entah siapa yang ingin dia temui. Tangan mungilnya menggenggam secarik kertas. Kertas yang mulai kusut, namun tetap ia genggam. Ia tidak mengijinkan angin untuk mengintip isi kertas itu. Digenggamnya dengan kuat. Tidak sepatah katapun terucap, ia tidak mendengarkan angin yang mengajaknya berbicara. Nyanyian burung tidak ia dengar. Bukan.. bukan karena dia tuli, ada sesuatu yang ia kubur, namun entah apa.

Langkahnya semakin masuk ke hutan yang rimbun itu, entah berapa lama waktu untuk menembus hutan itu menuju ke ujungnya. Entah ada apa disana, mungkin masih ada hutan yang lain, mungkin akan ada lautan, mungkin.. mungkin.. mungkin.. entahlah. Apa yang dipikirkan anak itu? Ia sama sekali tidak bahagia menyambut pergantian musim ini.

Semakin jauh, semakin dalam ia masuk ke hutan, semakin gelaplah suasana disana, semakin lembablah udara disana, semakin sunyilah disana, hanya ada kicau burung sesekali. Namun bunga tetap mekar dengan bahagia, kupu-kupu mengelilinginya, lebah menari diatasnya. Namun itu tidak membuat anak kecil ini tertarik untuk menyaksikannya. Hari semakin siang, sang surya telah merubah hangat menjadi panas, anak kecil itu menghentikan langkahnya, matanya berkeliling memperhatikan setiap sudut hutan dengan teliti, lalu tertuju pada sebuah pohon rimbun dan besar. Ia berjalan ke arah pohon itu, mendekatinya dengan langkah yang hati-hati dan pelan. Matanya fokus memperhatikan sekelilingnya. Ia kini ada didepan pohon itu, lalu terduduk lemah dan beristirahat. Matanya memejam, namun tangannya tetap memegang secarik kertas itu, lalu didekapnya kertas itu dan ia tertidur.

Apakah yang ia cari?? Mengapa ia begitu menjaga surat itu?? Terik matahari mulai berkurang menandakan hari mulai sore dan akan segera gelap. Dengan terburu-buru saat ia menyadari hal itu, ia pun berlari seperti berlomba dengan angin, kaki-kaki mungilnya menginjak tanah dan kerikil, dedaunan yang jatuh tidak membuatnya berhenti. Semakin kedalam, semakin sunyi. Lumut-lumut menghiasi tanah yang subur, jamur-jamur tumbuh dengan riang, angrek menjalar menggapai langit. Namun anak itu masih terus berjalan. Kemanakah ia akan pergi?

Langkah kakinya masih terus menapaki tanah, pohon demi pohon ia lewati, kumbang-kumbang ia hindari, kupu-kupu bingung akan tingkahnya yang tidak biasa. Dedaunan bertanya, ada apakah gerangan. Angin semakin penasaran akan isi kertas kecil itu. Hingga tanah makin lembab, ada sebuah pohon tumbang yang sudah menjadi rumah bagi lumut, jamur dan semut. Matanya terus berkelana. Namun ia masih belum berhenti.

Tidak ada yang tau apa yang ada di dalam hatinya. Hanya ia dan Rabb-nya yang tau. Raut wajahnya serius, tidak menampakkan apa yang sebenarnya terjadi. Saat langkahnya semakin kedalam, lebih jauh lagi, terlihatlah sebuah gubuk kecil sederhana. Di depan gubuk itu terlihat bekas perapian dan sebuah tempat memasak nasi. Danau luas terbentang di depannya. Airnya memantulkan berkas-berkas cahaya sang senja. Ikan-ikan berkejaran. Gubuk itu seraya rumah panggung yang terbuat dari susunan kayu berwarna khas, dengan sebuah tangga kayu tepat dekat pintu utama, yang apabila diinjak oleh tuannya menimbulkan bunyi berderit. Anak itu meniti tangga satu persatu, lalu mengetuk ringan pintu itu. Bunyi berderit terdengar tanda dalam gubuk itu ada seseorang. Seorang perempuan yang sudah udzur, rambut putihnya ditutupi kain bermotif bunga, lalu menyapa anak itu.
"Neng.." sapanya penuh bahagia. Seolah lepas semua ke khawatiran.
"Assalamu'alaikum, Nini..." anak itu memeluk wanita itu.
"Wa'alaikumsalam.."
Anak itu memberikan selembar kertas pada wanita yang ia panggil Nini. Lalu Nini membacanya dengan saksama. Mengerutkan dahinya, mengubah-ubah posisi kertas yang ada di tangan kanannya. Tangan kirinya setia memegang kerudung yang Nini kenakan.
"Neng tau, Ambu tidak pulang lagi, Ni.." ujarnya lemah, nampaklah kesedihannya. Terbongkarlah sudah, angin kini mengetahuinya, lalu berlari memberi kabar kepada pepohonan, kepada kumbang dan kupu-kupu tentang kesedihan anak itu.
"Neng.. sabar ya.. " ucap Nini dengan lembut lalu memeluknya hangat. Mengalirlah cairan bening dari mata Nini dan anak itu. Anak kecil itu melepaskan pelukannya lalu berlari sekuat-kuatnya. Nini menatapnya penuh kesedihan, dan terus duduk bersimpuh di depan pintu gubuk yang ternyata tempat mereka melepaskan semua perasaan dan ke gundahan, tempat yang mereka buat senyaman mungkin untuk berteduh dan menggelar sajadah.

Anak kecil itu terus berlari, berlari dan berlari. Dari matanya yang mungil terlihat aliran air mata yang deras membasahi pipinya. Hingga ia terjatuh dan sesegukan. Di depannya terdapat mawar putih yang lebat bunganya serta sangat harum semerbak mengundang kumbang datang.
"Ambu, sekarang mawarnya sudah berbunga banyak sekali, tapi kenapa Ambu masih belum pulang? Ambu bilang, Ambu akan pulang lalu merawat mawar putih ini bersama? Ambu...." ia menangis sejadi-jadinya, duduk bersimpuh menatap sang surya. Sang surya telah malu karena tidak mengerti isi hatinya. Kini langit mulai menggelap. Angin tidak lagi membelai lembut namun telah berlarian, burung-burung mengalunkan lagu sendu, awan menghitam. Anak itu masih menangis. Mawar putih di tengah hutan itulah saksi bisu tangisnya. Mawar putih yang selalu dirawat oleh seorang anak kecil yang berharap ia akan segera bertemu dengan Ambu.


Catt.
Neng : panggilan untuk anak perempuan di tatar Pasundan
Nini : Nenek
Ambu : Ibu

Sabtu, 06 Juni 2015

Tidak Ada Judul

Hari ini, hari apa ? Hari Sabtu? Bukan,bukan Sabtu..
Hari yang terlalu menyayat hati, tersedu-sedu aku.. Namun bukan mata ini yang sembab, melainkan hati ini yang bergemuruh keras, meronta, memaksa, ingin aku ucapkan keadilan yang terjadi, ingin aku tagih semua yang terjadi. Kalian... aku tau benar-benar tau, arti pandangan itu. Akupun sadar aku bukan kalian, aku sadar sangat-sangat sadar, tapi aku tidak akan menyerah itulah yang aku pelajari dari orang-orang disekelilingku. Orang-orang yang tidak aku kenal sepenuhnya namun lebih memahami, ikhlas itulah yg aku dapat dari sanak keluarga besarku. Masalah ini biarkan menjadi bagian sejarah dalam hidupku, menjadi segenap tenaga dalam jiwaku. Tak apa, apapun yang kalian pikirkan, ada Allah, aku punya Allah, aku tidak peduli. Asaku saat ini hanya bersyukur akan apapun yang terjadi, inilah segenap kekesalanku, kekesalan yang aku sembunyikan dari banyak orang, namun aku tidak tahan maaf aku ungkapkan ini, namun masalah tidak ingin aku ungkap. Aku hanya seorang manusia pengembara di tanah ini, mencari jawaban akan rahasia Illahi, mungkin ini salah satu rahasia-Nya, rahasia yang teramat bermakna, mengajarkan aku akan betapa hidup di dunia ini tidak menyenangkan, menyadarkan aku akan apapun yang terjadi adalah kehendak-Nya.
Aku masih yakin, hari ini adalah hari penuh nikmat. Walaupun aku tidak pernah tau kapan aku menjadi korban dan kapan menjadi tersangka ataupun saksi!
Ingin aku berteriak, namun aku tau ada yang akan sakit mendengar teriakanku.. mungkin akulah yang salah.. tapi aku tidak ingin lemah.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا 
"Karna sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan" itulah firman Rabbku.
Percayalah, tidak ada pelangi tanpa hujan. Dan biarkan aku menjadi secangkir kopi, yang mana kala air panas menyiramnya, kopi itu menjadi harum.
Mungkin aku beruntung, jika ini memang bantuan Allah SWT. untuk kalian yang melalui diriku, semoga kalian dapat memanfaatkannya dengan baik, semoga berkah... aamiin..

Jumat, 03 April 2015

Seandainya Aku Bisa Lebih Cepat...

Mega mulai kelabu, guntur terdengar besahutan, suhu udara turun drastis. Perjalanan pulang masih terlampau panjang, aku rindu pada hangat sang surya di sebelah timur, aku rindu pada senja yang berwarna jingga. Senyum manisnya masih terlukis jelas di balik kelopak mataku, sebuah senyum syahdu yang mengharapkan kami semua berkumpul diatas tanah yang mulai memerah, dengan batuan yang apik ditata alam, berkumpul seperti pohon yang melingkupi jalan,  saling menyapa dibantu sang angin.

Jalanan berbelok dan menanjak adalah sahabat baikku. Kesendirian inipun tidak lepas dari perjalanan hidup. Tring.. tring... bunyi ponsel di tasku. "Mamah" gumamku. 'Cepat pulang, ada hal penting yang harus mamah sampaikan..' tubuhku bergetar seolah telah tersambar petir hari itu, angin tidak lagi ada dipihakku, ia mulai berlari dan berlari, pepohonan mulai berbisik menakuti kalbu. Pikiranku mulai terbang, entah apa yang akan terjadi, aku mulai merasa dingin dan takut.

Sukmaku mulai melayang, pikiranku tidak tentu arah, langkahku mulai setengah berlari. Ya Rabb ada apa ini? Hanya itu yg terucap dalam gemuruhnya angin hari ini, jantungku berdegup kencang. Butiran keringat dingin membasuh jiwa. Berlarilah.... bisikan itulah yang aku dengar dari qalbuku. Jilbab putihku bukan lagi dibelai angin, daun-daun yang jatuh, terlihat tidak menghiasi jalan. Cemas, takut, gelisah, semua menjadi satu... Semakin jauh aku melangkah semakin aku rasakan bahwa tubuhku mulai lelah, langkah tidak dapat aku rasakan, seolah aku melayang, kepalaku mulai terasa berat seperti ditimpa benda berpuluh-puluh kilogram. Tas punggung yang setia memelukku erat semakin memberat.

Aneh, hari ini sangatlah aneh. Tiba-tiba banyak sekali orang yang berlalu lalang, angkutan umum sesak oleh berpasang-pasang mata. Berjam-jam aku berdiri, tidak satupun kendaraan umum yang lewat. Nafasku mulai memberat, rasa khawatir semakin mendalam. Kala aku lihat ponsel putihku yang sudah melemah baterainya, 11 panggilan tidak terjawab. Astaghfirullah.. ternyata sejak aku merasakan beratnya kepala dan kakiku ini ada yg menelponku. Mamah, kakak perempuanku, dan ayahku ? Ternyata sejak tadi mereka menghubungiku, tapi bagaimana ini ? Jalanan terlalu sesak, kendaraan umum yang aku butuhkan selalu penuh. Mungkin aku harus berlari lagi...

Angin mulai menghampiri, mendorong tubuhku yang lunglai, gejolak hati tidak kunjung reda, jalanan terasa sangat sesak, udara tidak bersahabat. Lari.. lari.. dan berlari.. mengejar jawaban yang ada di rumah hangat milik kami.

Pertanyaan orang-orang tidak lagi aku hiraukan. Dalam benakku hanya ada kata berlarilah.. kejarlah.. aku lelah, angin selalu mengombang-ambing tubuhku. Mega mendung menghiasi langit. Sang surya tidak nampak mungkin ia malu. Cepatlah, aku harus melangkah lebih cepat. Tanjakan demi tanjakan aku lalui, lelah mulai mendera, melekat erat dalam darahku, pundakku terasa amat sangat sakit, pandanganku kabur, gelap.. gelap.. teramat gelap.

Tubuhku ambruk terbanting ditanjakan terakhir menuju rumah, jalanan yang rimbun pepohonan, tidak ada lalu lalang kendaraan roda empat, hanya kendaraan roda dua yang berkejar-kejaran.
"Hei.. hei.. itu lihat.. cepat tolong!" hanya suara dan langkah kaki yang banyak yang aku dengar samar lalu sedikit demi sedikit sunyi... senyap..
"Adek ?" Suara lembut mengalir melalui udara menuju telingaku.
"Dimana aku?" Lirihku. Tempat yang terlampau putih, pas bunga menghiasi ruangan itu, sebuah sofa di sudut kanan. Kepalaku pusing, kaki dan tanganku sangat lemah. Aku pegang erat kepala ini sambil memfokuskan mataku. Seorang wanita berbaju putih menghampiriku dengan senyum lembut. Aku menengok ke tangan kananku yang terasa aneh, selang infus jawab hatiku.

"Adek sudah baikan? Tubuhmu sangat lemah." Ujar wanita itu yang ternyata adalah seorang dokter.
"Tadi warga kemari mengantarmu, mereka bilang kamu jatuh pingsan dijalan." Lanjutnya.
"Tapi..." ucapku lemah.
"Tapi?"
"Aku harus segera pulang!" Ujarku seraya melepas jarum infus di tanganku dan bergegas.
"Tapi kondisimu lemah, kamu harus menunggu sebentar. Untuk memulihkan kondisimu." Ucapnya dan dengan cekatan ia menangkap tanganku.
"Ada hal yang lebih penting yang ha.."
"Pikirkan dulu kesehatanmu, tubuhmu sangat lemah." Potongnya dan tidak membiarkan aku bicara lagi.
"Setelah ini saya antar kamu pulang.."
"Tapi harus sekarang." Jawabku mengiba.
"Baiklah.. tapi kamu harus tetap menggunakan infusmu."

Dokter itu memasang kembali infus ditanganku. Lalu melepaskan kaitannya pada sebuah besi panjang dan merangkulku menuju mobilnya. Mobil putih itu sangat bersih, didalamnya terdapat berbagai perlengkapan, mungkin dokter yang tidak aku ketahui namanya ini menyukai warna putih. Ia berjilbab panjang, wajahnya lembut penuh kasih sayang.

Sepanjang jalan aku hanya terdiam, menatap aspal yang tengah aku lalui, aneh dokter itu tidak menanyakan dimana rumahku, namun aku hanya terdiam, menatap langit yang semakin kelabu namun hujan tidak kunjung turun, angin masih terus berkejar-kejaran menggugurkan dedaunan yang ia lalui, gerungan suara kendaraan seolah hanya lagu pilu yang disampaikan, gelisah hati tidak kunjung reda.

Tidak lama, nampaklah sebuah rumah sederhana bercat oranye, dengan hiasan bunga-bunga hias yang namapk layu, iya.. hari ini entah kenapa aku lupa menyiramnya sebelum berangkat sekolah tadi. Itulah rumah tempat kami berlindung dari cuaca yang menerpa. Gorden birunya mulai lusuh tertiup angin melambai kepadaku agar lebih cepat, namun cat oranye itu menyala seolah menatap syahdu dengan kekuatannya, bunga-bunga bergoyang lemah.

"Assalamu'alaikum.." Lirihku lemah kala aku mencapai pintu bercat merah marun itu. Namun, mataku nanar melihat banyak orang disana.
"Wa'alaikumussalam.." Jawab mereka serentak.
Ibu dan kakak perempuanku berlari lalu memelukku. "In, kakekmu, nak.. kakekmu.." Ibuku menangis tersedu-sedu, aku hanya terdiam mematung di pintu, air mataku tidak terbendung lagi. Yaa... seandainya aku bisa lebih cepat, mungkin aku akan sempat berbicara walau satu kata kepadanya.. pedih sekali rasanya, air mata membasahi pipi, angin membiarkan jilbab putihku berkibar, isak tangis memenuhi ruangan, dokter itupun tidak henti-hentinya meminta maaf karena menahanku di rumah sakit terlalu lama. Kaki melangkah mendekat.. tumpahlah semua kesedihan ini..

Kakek, engkau selalu mengajak kami bermain, sebuah permainan tradisional selalu kau kenalkan, sebuah tatapan lembut selalu kau lukiskan, sebuah senyuman hangat selalu kau berikan. Ketangguhanmu selalu kau contohkan pada kami, ketaatanmu selalu mengingatkan kami. Rindu kami ucapkan dari do'a semoga kau bahagia disisi-Nya.
Air akan selalu mengalir disungai hingga kelautan..
Awan selalu berjalan kala angin menggandengnya..
Pelangi selalu datang saat surya bertemu hujan..
Burung selalu terbang mengikuti angin hingga lelah dan istirahat..
Do'a kami insyaa Allah akan selalu mengalir..