Malam memang gelap, tapi malam sangatlah indah. Orang-orang mengibaratkan kesedihan dengan awan kelabu, tapi aku pikir kesedihan itu adalah hal yang gelap dimana aku tidak dapat melihat lagi keindahan-keindahan yang akan terjadi, saat hatiku meronta dan tidak akan pernah ada yang tau. Bukan gelap sang malam yang dihias bintang atau awan mendung dan hujan. Tapi gelap dimana aku berteriak tidak akan ada lagi orang yang mendengarnya selain diriku sendiri serta Tuhan. Jeritanku adalah angin sunyi sang malam, yang diam-diam meronta namun tidak nampak. Orang bilang, dihargai sangatlah indah serta dapat meningkatkan percaya diri.
***
Aku bertemu sang hujan, anginnya yang kencang mengobrak-abrik seluruh hal yang dilaluinya, bak topan yang paling ganas. Seolah mentari tidak ingin lagi bersinar, rasa lelah, hanya rasa lelah yang menyelimutinya. Mentari itu tidak ingin berbicara karena dia selalu diabaikan. Mungkin aku hanyalah setangkai bunga kecil di jalan raya, tidak dihargai dan hanya dilalui bahkan nyaris terinjak. Sakit, namun aku tidak bisa berteriak karena aku hanya setangkai bunga kecil yang tidak nampak.
Hingga suatu saat ada seekor semut yang menghampiriku, menyemangatiku, dan tanpa peduli keluh kesahku. Ia mampu menatap jeritan hatiku saat daun di tangkaikupun tidak mampu lagi. Ia bercerita bahwa ia sangat 'payah', kata-kata yang mungkin kasar untukku walaupun aku hidup dijalanan ini.
"Kau tak seharusnya berkata seperti itu!" Tegasku padanya.
"Tapi itulah kenyataannya." Lirih sekali suaranya.
"Kenyataan apa? Kau tidak patut bicara begitu." Ucapku.
Untunglah itu hanya rangkaian huruf, bukan bahasa mataku. Jeritan hati yang aku sembunyikan justru membuatku sangat gelisah. Aku hanya mampu menangis kala itu. Entah.. entah siapa yang akan mengerti bahwa aku hanya ingin dihargai bukan disalahkan. Terkadang aku berpikir yang mungkin cukup gila. 'Untuk apa aku dilahirkan dan hidup? Apakah aku bagian dari tokoh cerita ini? Yang aku tau, aku hidup untuk mati dan menjalankan kehidupan setelahnya.'
Penghargaan? Mungkin aku nyaris tidak pernah tau rasanya. Bagaimana rasanya saat kamu dihargai? Didengar? Dihormati? Disayangi? Yang aku tau hanya air mata, takut dan gelap. Aku hanya hapal sebuah perasaan dimana aku dibedakan, disisihkan. Hingga aku takut sekali memperlihatkan bakat yang ada dalam diriku. Sebuah ketidak percayaan diri. Tanganku terlalu lemah untuk menggandeng mereka, langkahku mungkin terlalu lamban. Aku tidak mengerti dengan kehidupan ini.
Sejujurnya, aku ingin mengungkapkan semua yang aku rasakan, dimana hati terasa tabu, udara terasa menusuk-nusuk. Bolehkah aku bertanya? Dimanakah qalbu setiap manusia untukku? Tuhan, cerita apakah yang Engkau sediakan untukku yang sangat lemah dan penuh dengan dosa. Aku tidak pernah sanggup mengatakannya, mengatakan apa yang aku rasakan dan apa yang aku inginkan.
Tuhan, aku yakin Engkau tidak pernah lelah mendengar keluh kesahku. Akupun yakin Engkau sedih ketika melihatku menangis, namun Engkau yakinkan aku untuk terus berjuang menapaki sisa jalan hidupku.
Pantaskah aku? Di bait ke delapan belas tahun puisiku ini aku berkata seperti ini? Maafkanlah aku, Tuhan. Yaa Rabbi, ampuni aku, karna aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Justru orang diluar keluarga kandungkulah yang mendukungku, walaupun aku tidak pernah tau ketulusan mereka tapi semoga mereka benar-benar tulus Yaa Rabbi. Bukan karna merasa tidak enak padaku. Terimakasih Yaa Rabbi kala aku mulai merasa lelah, Engkau hadirkan mereka.
Terimakasih Yaa Rabbi, kala tangkaiku melemah, Engkau datangkan hujan.
Terimakasih Yaa Rabbi, kala aku merasa kesepian, Engkau hadirkan semut untuk menemaniku.
Terimakasih Yaa Rabbi, kala sang daun menjauh, Engkau datangkan kumbang.
Terimakasih Yaa Rabbi, dibait kedelapan belas tahun ini semoga menjadi jalan indah dibait tahun mendatang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar