Senin, 21 September 2015

Edisi Cinta Campur-campur

Cinta adalah sebuah kata yang ambigu untukku. Arti cinta sangatlah beragam tergantung orang yang memandangnya. Aku sendiripun terkadang bingung harus mengartikannya sebagai apa. Jelaslah semua butuh ketulusan, sebagaimana arti cinta dari sosok wanita yang menjadi malaikat di dunia ini, siapa lagi kalau bukan seorang ibu. Cinta ibu adalah cinta yang mengalir sepanjang hayat.
Hatiku takut dan bergetar kala aku melihat sesuatu, rasanya aku ingin menangis, kapan aku bisa berubah sepenuhnya? Menjadi pribadi yang baik, aku takut kala membaca qalam-Nya saat azab-azab pedih yang akan ditimpakan, tapi akupun tanpa sengaja melakukan kesalahan yang sama.
Lupa, ya.. lupa adalah sebuah anugerah, karena apa? Menurutku dengan adanya lupa kita mampu melupakan semua kesalahan orang lain sehingga kita terus mampu memaafkan, namun sayangnya saat kita berbuat seribu kebaikan, hal itu akan hancur karena satu keburukan.
Entah apa yang menjadi pandangan orang-orang, bukankah melakukan kesalahan itu wajar? Karena manusia tidak sempurna dan membutuhkan bimbingan bukan judge yang tidak jelas.
Kawan, aku bertemu dengan sosok-sosok yang sangat menerima kondisiku, yang tidak mencariku dimasa laluku. Inikah? Sebuah ketulusan seorang teman? Walaupun wajah sama sekali tidak pernah saling memandang, namun ketulusan mereka selalu terasa. Walaupun dengan sedikit kekhawatiran dan ketakutan akan apa yang aku alami saat bersama kalian.
Aku memiliki pertanyaan untuk kalian kawanku. Kawan apakah saat aku melakukan sebuah kesalahan kalian men-judge-ku dengan aneh? Atau mungkin saat aku jatuh kalian mendapatkan penilaian yang menyakitkan untukku? Apakah kalian menjauh? Kawan? Aku hanya berharap kalian adalah kawan yang sesungguhnya yang tidak peduli seberapa dalam aku jatuh, tapi kalian akan terus memotivasiku untuk bangkit? Akan kah kalian melakukan itu? Aku percaya arti cinta yang tulus. Jika kalian memang tidak ingin lagi behubungan denganku, biarlah aku tetap meminta kalian untuk membimbingku mendekat kepada Rabb-ku, walau tanpa kalian sadari.
Ada yang mengatakan 'Lupakanlah semua kejahatan orang-orang kepadamu, dan ingatlah selalu kebaikannya. Serta lupakanlah semua kebaikanmu kepada orang lain tapi ingatlah keburukanmu kepada mereka.'
Aku yakin bahwa cinta menyelimuti sesama jiwa kita. Walaupun tidak sebesar cinta seorang ibu kepada anaknya, tapi aku berharap bahwa cinta itu terus tulus dan ada bersama kita. Bolehkah? :) tolong jangan pergi dan menjauh dan tolong kalian yang barupun tetap menjadi kawanku.

Kamis, 10 September 2015

Inilah Bait ke-18 Tahun

Malam memang gelap, tapi malam sangatlah indah. Orang-orang mengibaratkan kesedihan dengan awan kelabu, tapi aku pikir kesedihan itu adalah hal yang gelap dimana aku tidak dapat melihat lagi keindahan-keindahan yang akan terjadi, saat hatiku meronta dan tidak akan pernah ada yang tau. Bukan gelap sang malam yang dihias bintang atau awan mendung dan hujan. Tapi gelap dimana aku berteriak tidak akan ada lagi orang yang mendengarnya selain diriku sendiri serta Tuhan. Jeritanku adalah angin sunyi sang malam, yang diam-diam meronta namun tidak nampak. Orang bilang, dihargai sangatlah indah serta dapat meningkatkan percaya diri.
***
Aku bertemu sang hujan, anginnya yang kencang mengobrak-abrik seluruh hal yang dilaluinya, bak topan yang paling ganas. Seolah mentari tidak ingin lagi bersinar, rasa lelah, hanya rasa lelah yang menyelimutinya. Mentari itu tidak ingin berbicara karena dia selalu diabaikan. Mungkin aku hanyalah setangkai bunga kecil di jalan raya, tidak dihargai dan hanya dilalui bahkan nyaris terinjak. Sakit, namun aku tidak bisa berteriak karena aku hanya setangkai bunga kecil yang tidak nampak.
Hingga suatu saat ada seekor semut yang menghampiriku, menyemangatiku, dan tanpa peduli keluh kesahku. Ia mampu menatap jeritan hatiku saat daun di tangkaikupun tidak mampu lagi. Ia bercerita bahwa ia sangat 'payah', kata-kata yang mungkin kasar untukku walaupun aku hidup dijalanan ini.
"Kau tak seharusnya berkata seperti itu!" Tegasku padanya.
"Tapi itulah kenyataannya." Lirih sekali suaranya.
"Kenyataan apa? Kau tidak patut bicara begitu." Ucapku.

Untunglah itu hanya rangkaian huruf, bukan bahasa mataku. Jeritan hati yang aku sembunyikan justru membuatku sangat gelisah. Aku hanya mampu menangis kala itu. Entah.. entah siapa yang akan mengerti bahwa aku hanya ingin dihargai bukan disalahkan. Terkadang aku berpikir yang mungkin cukup gila. 'Untuk apa aku dilahirkan dan hidup? Apakah aku bagian dari tokoh cerita ini? Yang aku tau, aku hidup untuk mati dan menjalankan kehidupan setelahnya.'
Penghargaan? Mungkin aku nyaris tidak pernah tau rasanya. Bagaimana rasanya saat kamu dihargai? Didengar? Dihormati? Disayangi? Yang aku tau hanya air mata, takut dan gelap. Aku hanya hapal sebuah perasaan dimana aku dibedakan, disisihkan. Hingga aku takut sekali memperlihatkan bakat yang ada dalam diriku. Sebuah ketidak percayaan diri. Tanganku terlalu lemah untuk menggandeng mereka, langkahku mungkin terlalu lamban. Aku tidak mengerti dengan kehidupan ini.
Sejujurnya, aku ingin mengungkapkan semua yang aku rasakan, dimana hati terasa tabu, udara terasa menusuk-nusuk. Bolehkah aku bertanya? Dimanakah qalbu setiap manusia untukku? Tuhan, cerita apakah yang Engkau sediakan untukku yang sangat lemah dan penuh dengan dosa. Aku tidak pernah sanggup mengatakannya, mengatakan apa yang aku rasakan dan apa yang aku inginkan.
Tuhan, aku yakin Engkau tidak pernah lelah mendengar keluh kesahku. Akupun yakin Engkau sedih ketika melihatku menangis, namun Engkau yakinkan aku untuk terus berjuang menapaki sisa jalan hidupku.
Pantaskah aku? Di bait ke delapan belas tahun puisiku ini aku berkata seperti ini? Maafkanlah aku, Tuhan. Yaa Rabbi, ampuni aku, karna aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Justru orang diluar keluarga kandungkulah yang mendukungku, walaupun aku tidak pernah tau ketulusan mereka tapi semoga mereka benar-benar tulus Yaa Rabbi. Bukan karna merasa tidak enak padaku. Terimakasih Yaa Rabbi kala aku mulai merasa lelah, Engkau hadirkan mereka.
Terimakasih Yaa Rabbi, kala tangkaiku melemah, Engkau datangkan hujan.
Terimakasih Yaa Rabbi, kala aku merasa kesepian, Engkau hadirkan semut untuk menemaniku.
Terimakasih Yaa Rabbi, kala sang daun menjauh, Engkau datangkan kumbang.
Terimakasih Yaa Rabbi, dibait kedelapan belas tahun ini semoga menjadi jalan indah dibait tahun mendatang.