Jumat, 08 Agustus 2014

Aku Akan Selalu Bersamamu



Saat rasa dingin mulai menyelimuti diri. Mimpi-mimpi mulai terbelenggu. Raga mulai lelah melewatinya. Kaki tak sanggup berjalan, menopang tubuh yang telah lelah bukan main. Mungkin angin akan menerbangkannya, menerbangkan rasa pedih yang ada. Mungkin sang surya akan membantu mengubah air mata ini menjadi uap.
Jalan yang aku lalui sudah tak aku ketahui,karena mimpi telah aku relakan terhapus. Ego diri telah aku kubur. Air mata telah aku biarkan mengalir. Mungkinkah mimpi baru akan terwujud? Saat jalan yang aku lalui mulai terasa sangat dingin menusuk hingga ke tulang. Saat aku mencoba mengikuti ego kalian. Hidupku seolah bukan hidupku. Sesungguhnya siapa aku ini? Salahkah aku ingin kalian bahagia? Jalan mana yang harus aku pilih?
Jalan berbatu, tanah yang aku injak, berliku-liku meninggalkan pesan. Kini aku harus terus berjalan dan menganggap semua ini hanya mimpi. Memandang ke depan mungkin akan ada cerita indah, namun itulah hutan yang aku lihat, menyisakan berjuta kemungkinan yang menyesakkan dada. Mampukah aku berjalan hinga kesana, jalan ini tidak hanya menyakiti kaki ini, namun hati ini juga. Pandangan kosong menengadah ke langit dengan harapan bahwa kisah disana indah. Aku hanya berdiri memandang jalan, membiarkan angina menerpa jiwa ini.
 Daun berguguran, mungkin pohonpun mengerti hati yang tengah pilu ini. Langkah demi langkah sangatlah berat. Ingin rasanya aku berlari dari semua kenyataan hidup ini. Namun aku tak sanggup. Aku hanya mampu duduk bersimpuh mendekap kedua kaki yang tengah lelah. Menyeka air mata yang deras mengalir dengan punggung tangan. Membiarkan angin membelai kerudung yang lusuh ini. Hingga hujan turun membasahi hati yang sedang dirundung kepedihan. Dingin semakin menusuk.
Seandainya aku dapat memutar waktu. Pasti akan aku putar. Aku ingin mengikuti mimpi yang telah aku rajut. Namun apalah daya, sang detik tak ingin aku kembali dan memaksa aku menerima semua ini.
“Satu-satunya hal yang mampu membuatku tersenyum hanyalah mimpi.”
“Mimpi disaat aku terlelap. Hal yang indah?”
“Tapi aku harus menghadapi kenyataan bukan mimpi. Ya tentu.”
Lelah, berat, sakit itulah yang bergejolak dalam hati.
Uluran tangan yang mengejutkan. Mengajakku berdiri dan menuntunku berjalan. Wajah yang asing bagiku, sama sekali tidak aku kenali. Garis senyumnya seolah telah aku hapal. Dengan sisa kekuatan aku gapai tangannya. Setelah beberapa lama aku hanya memandangnya. Namun ia tak menghapus senyum di wajahnya. Ia memetikkan bunga mawar putih yang harum untukku, seolah ia tau bahwa aku sangat menyukai bunga mawar putih.
Sepanjang jalan aku hanya membisu, terpaku pada jalan yang aku lewati. Namun ia tetap menuntunku dengan penuh kebahagiaan. Saat gerimis turun. Ia begitu melindungiku. Ia begitu khawatir akan keadaanku. Akhirnya aku kumpulkan keberanian selama perjalananku dengannya tadi.
“Apakah aku harus menyerah dengan keadaan ini?” ucapku lirih penuh linangan air mata.
Ia memandangku dan berkata “Tidak. Kamu tak boleh menyerah.” Seraya mengusap air mataku dengan lembut.
“Tapi aku lelah” jawabku.
“Kamu bukanlah kamu yang aku kenal. Kemana jiwamu yang tak mudah putus asa dan yakin akan pertolongan Allah. Sayang kemana jiwamu itu?” jawabnya sambil tak hentinya menghapus air mataku.
“Tapi tak ada yang mengerti aku. Tak ada yang mau memberiku sekedar motivasi utuk bertahan. Mereka hanya menginginkan apa yang mereka inginkan terwujud, tanpa memikirkanku.” Akupun terjatuh lelah membiarkan air mata ini terus mengalir.
“Sayang apa kamu yakin akan kekuasaan Allah?” jawabnya memegang tanganku.
“Ya, tentu” lirihku.
Waktu berlalu dan kami hanya teriam. Mendengar musik dari sang air hujan yang turun semakin deras dan ramai. Dunia terasa sangat dingin, tubuhku hanya menggigil kedinginan.
“Kau tau? Pelangi akan tiba saat hujan?” ucapnya sambil memeluk tubuhku yang dingin. Aku hanya mengangguk pelan.
“Kau tentu tau, saat hujan akan terasa dingin?” mengeratkan pelukannya padaku.
“Iya.” Jawabku.
“Sayang, pelangi tak akan muncul jika tidak ada hujan. Jika kamu mensyukuri hujan, maka hujan tak akan membuatmu dingin, sayang. Dan pelangi akan muncul.” Jelasnya sambil memandangku lembut. Aku tak mampu berkata apapun.
“Aku mengerti keadaanmu, sayang. Aku sangat paham apa yang kamu rasakan. Ya, semua yang kamu rasakan aku ketahui. Karena aku hatimu.” Jawabnya dengan senyum yang semakin dalam.
“Kelak kau akan menemukan kebahagiaan. Jangan takut. Jangan putus asa. Kita akan melaluinya, bersabarlah. Allah bersama kita.  Aku akan selalu bersamamu.” Sambungnya. Mengajakku berdiri dan menuntunku.
“Kamu tidak berjalan sendirian..”
Kumandang adzan terdengar. Membangunkanku dari mimpi itu. Berjalan awal yang sulit. Kapankah aku melihat taman bunga yang indah. Sang surya menampakan kilaunya, aku takut mengahdapi kenyataan. Tapi kata-katanya selalu berputar-putar diotakku. “Allah bersama kita. Aku akan selalu bersamamu…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar