Saat rasa dingin mulai menyelimuti diri. Mimpi-mimpi mulai
terbelenggu. Raga mulai lelah melewatinya. Kaki tak sanggup berjalan, menopang
tubuh yang telah lelah bukan main. Mungkin angin akan menerbangkannya,
menerbangkan rasa pedih yang ada. Mungkin sang surya akan membantu mengubah air
mata ini menjadi uap.
Jalan yang aku lalui sudah tak aku ketahui,karena mimpi
telah aku relakan terhapus. Ego diri telah aku kubur. Air mata telah aku
biarkan mengalir. Mungkinkah mimpi baru akan terwujud? Saat jalan yang aku lalui
mulai terasa sangat dingin menusuk hingga ke tulang. Saat aku mencoba mengikuti
ego kalian. Hidupku seolah bukan hidupku. Sesungguhnya siapa aku ini? Salahkah aku
ingin kalian bahagia? Jalan mana yang harus aku pilih?
Jalan berbatu, tanah yang aku injak, berliku-liku
meninggalkan pesan. Kini aku harus terus berjalan dan menganggap semua ini
hanya mimpi. Memandang ke depan mungkin akan ada cerita indah, namun itulah
hutan yang aku lihat, menyisakan berjuta kemungkinan yang menyesakkan dada. Mampukah
aku berjalan hinga kesana, jalan ini tidak hanya menyakiti kaki ini, namun hati
ini juga. Pandangan kosong menengadah ke langit dengan harapan bahwa kisah
disana indah. Aku hanya berdiri memandang jalan, membiarkan angina menerpa jiwa
ini.
Daun berguguran,
mungkin pohonpun mengerti hati yang tengah pilu ini. Langkah demi langkah
sangatlah berat. Ingin rasanya aku berlari dari semua kenyataan hidup ini. Namun
aku tak sanggup. Aku hanya mampu duduk bersimpuh mendekap kedua kaki yang
tengah lelah. Menyeka air mata yang deras mengalir dengan punggung tangan. Membiarkan
angin membelai kerudung yang lusuh ini. Hingga hujan turun membasahi hati yang
sedang dirundung kepedihan. Dingin semakin menusuk.
Seandainya aku dapat memutar waktu. Pasti akan aku putar. Aku
ingin mengikuti mimpi yang telah aku rajut. Namun apalah daya, sang detik tak
ingin aku kembali dan memaksa aku menerima semua ini.
“Satu-satunya hal yang mampu membuatku tersenyum hanyalah
mimpi.”
“Mimpi disaat aku terlelap. Hal yang indah?”
“Tapi aku harus menghadapi kenyataan bukan mimpi. Ya tentu.”
Lelah, berat, sakit itulah yang bergejolak dalam hati.
Uluran tangan yang mengejutkan. Mengajakku berdiri dan
menuntunku berjalan. Wajah yang asing bagiku, sama sekali tidak aku kenali. Garis
senyumnya seolah telah aku hapal. Dengan sisa kekuatan aku gapai tangannya. Setelah
beberapa lama aku hanya memandangnya. Namun ia tak menghapus senyum di
wajahnya. Ia memetikkan bunga mawar putih yang harum untukku, seolah ia tau
bahwa aku sangat menyukai bunga mawar putih.
Sepanjang jalan aku hanya membisu, terpaku pada jalan yang
aku lewati. Namun ia tetap menuntunku dengan penuh kebahagiaan. Saat gerimis
turun. Ia begitu melindungiku. Ia begitu khawatir akan keadaanku. Akhirnya aku
kumpulkan keberanian selama perjalananku dengannya tadi.
“Apakah aku harus menyerah dengan keadaan ini?” ucapku lirih
penuh linangan air mata.
Ia memandangku dan berkata “Tidak. Kamu tak boleh menyerah.”
Seraya mengusap air mataku dengan lembut.
“Tapi aku lelah” jawabku.
“Kamu bukanlah kamu yang aku kenal. Kemana jiwamu yang tak
mudah putus asa dan yakin akan pertolongan Allah. Sayang kemana jiwamu itu?”
jawabnya sambil tak hentinya menghapus air mataku.
“Tapi tak ada yang mengerti aku. Tak ada yang mau memberiku
sekedar motivasi utuk bertahan. Mereka hanya menginginkan apa yang mereka
inginkan terwujud, tanpa memikirkanku.” Akupun terjatuh lelah membiarkan air
mata ini terus mengalir.
“Sayang apa kamu yakin akan kekuasaan Allah?” jawabnya
memegang tanganku.
“Ya, tentu” lirihku.
Waktu berlalu dan kami hanya teriam. Mendengar musik dari
sang air hujan yang turun semakin deras dan ramai. Dunia terasa sangat dingin,
tubuhku hanya menggigil kedinginan.
“Kau tau? Pelangi akan tiba saat hujan?” ucapnya sambil
memeluk tubuhku yang dingin. Aku hanya mengangguk pelan.
“Kau tentu tau, saat hujan akan terasa dingin?” mengeratkan
pelukannya padaku.
“Iya.” Jawabku.
“Sayang, pelangi tak akan muncul jika tidak ada hujan. Jika kamu
mensyukuri hujan, maka hujan tak akan membuatmu dingin, sayang. Dan pelangi
akan muncul.” Jelasnya sambil memandangku lembut. Aku tak mampu berkata apapun.
“Aku mengerti keadaanmu, sayang. Aku sangat paham apa yang
kamu rasakan. Ya, semua yang kamu rasakan aku ketahui. Karena aku hatimu.” Jawabnya
dengan senyum yang semakin dalam.
“Kelak kau akan menemukan kebahagiaan. Jangan takut. Jangan putus
asa. Kita akan melaluinya, bersabarlah. Allah bersama kita. Aku akan selalu bersamamu.” Sambungnya. Mengajakku
berdiri dan menuntunku.
“Kamu tidak berjalan sendirian..”
Kumandang adzan terdengar. Membangunkanku dari mimpi itu. Berjalan
awal yang sulit. Kapankah aku melihat taman bunga yang indah. Sang surya
menampakan kilaunya, aku takut mengahdapi kenyataan. Tapi kata-katanya selalu
berputar-putar diotakku. “Allah bersama kita. Aku akan selalu bersamamu…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar