Inilah ujian pertama disemester ini
yang harus segera aku atasi. Kenapa saat aku ingin menjaga hati ini agar tidak
selalu berprasangka, kalian datang menyebut-nyebut namaku tanpa memberitahukan
apapun itu. Apapun yang kalian bicarakan tentang diri ini, kesalahan diri ini,
kelemahan diri ini. Kenapa tak kalian beritahukan secara langsung pada diri
ini, agar hati dan pikiran ini tenang, tidak membiarkan sesuatu hal yang buruk
ada mengelilingi jiwa ini.
Sejujurnya saja aku ingin tenang
menjalankan jenjang pendidikan di sekolah ini. Namun kenapa aku selalu
dihadapkan pada masalah yang seperti ini. Kawan, saudaraku, sahabaku…. Aku memiliki
sebatas surat yang ingin hati ini sampaikan dan tangan ini tuliskan. Semoga kalian
mengerti.
“Kawan, saudaraku.. jujur saja hati
ini selalu meronta-ronta kala kalian menyebut nama ini, lalu menyembunyikannya
dari diri ini. Hati ini memaksa pikiran ini untuk mengetahuinya, namun raga ini
menolak. Dan membiarkan waktu berjalan dan menjawab semua yang kalian bicarakan.
“Kawan, saudaraku… diri ini bukanlah
ingin menjadi sosok yang individualis,
diri ini ingin selalu berkelompok menghadapi perbedaan-perbedaan diantara kita.
Diri ini hanyalah seonggok daging yang ingin terlengkapi segala kekurangannya dengan
adanya kalian. Diri ini hanya ingin
belajar dari kalian, memperhatikan segala hal yang baik, memperbaiki perangai
diri ini yang tak sempurna.
“Kawan, saudaraku… diri ini hanya ingin
kalian motivasi saat jatuh dan kalian ingatkan saat berdiri. Diri ini sangat
menyadari betapa banyaknya salah yang diperbuatnya. Namun diri ini hanyalah
aliran darah yang membutuhkan waktu untuk belajar menyadari kesalahan dengan
dalam dan waktu untuk memperbaikinya. Karena diri ini hanyalah sekuncup bunga
yang ingin mekar dengan indah, namun rapuh dan selalu dilumuri kesalahan.
“Kawan, saudaraku… hati ini
hanyalah suatu anugerah dari Sang Pencipta, untuk merasakan segala hal yang
terjadi. Hati ini mampu melihat sorot mata kalian yang menyembunyikan sesuatu
dari diri ini. Cahaya yang diisaratkan oleh mata kalian. Namun, sering membuat
hati ini menaruh prasangka.
“Kawan, saudaraku… pernah satu
malam aku memimpikan kalian. Disana kalian membicarakan sesuatu. Namun aku
tidak kalian ijinkan untuk mengetahunya. Diri ini hanya mampu berkawan dengan angin.
Berharap sang angin menyampaikan apa yang kalian bicarakan. Diri ini hanya
bernaung dibawah langit yang biru. Berharap sang awan datang melukiskan apa
yang terjadi. Diri ini hanya mampu bercermin di samudera. Berharap sang
gelombang datang membantu bangkit diri ini.
“Kawan, saudaraku… sakit hati ini
saat kalian membicarakan diri ini. Perih, bagai tertusuk jarum, namun tumpul. Terpukul
kayu yang keras.
“Kawan, saudaraku.. apalah daya
diri ini, kalian tak mengerti apa yang aku hadapi. Bukan diri ini tak
memperjuangkannya, namun diri ini telah lelah menjelaskannya. Sehingga membuat
mulut ini bungkam dan hanya membisu. Entah apa yang harus aku sampaikan agar
kalian mengerti jiwa ini.
“Kawan, saudaraku… angin pernah berkata
pada hati ini. ‘Berhembuslah bersamaku. Ikhlaskanlah segala hal yang terjadi,
Allah tidak tidur. Lukislah garis senyum di wajahmu. Tutupilah kesedihan yang
kau rasa. Kuburlah kepedihan yang menyayat hatimu. Berhembuslah… biarkan waktu
berlalu… teruslah bermuhasabah.’ Samudera biru akan terus membentang berwarna biru
hingga kehendak Allah datang.
“Kawan, saudaraku… maafkanlah
kesalahan diri ini. Maafkanlah kelemahan diri ini. Diri ini hanyalah debu-debu
diantara kalian. Diri ini hanyalah kerikil kecil diantara kalian. Akan terhempas
saat kalian datang. Hati ini hanyalah bunga. Yang akan patah saat kalian
mengisaratkan tentang diri ini. Bantulah aku, agar aku dapat menjadi lebih
baik. Agar hati ini tidak terus menangis. Agar pikiran ini tidak terus ditimpa
beban berat.
“Mungkin ini hanya salah hati ini,
salah pikiran ini yang selalu diajarkan untuk mengartikan bahasa isarat yang
kalian sampaikan. Bantulah aku, do’a telah aku panjatkan. Ikhtiar telah aku
usahakan.. Aku mohon bantulah aku, agar aku lebih baik………..”
tulisannya bagus bermuhasabah melalui tulisan :)
BalasHapusalhamdulillah, terimakasih kak :)
Hapusterimakasih juga karena telah bersedia meluangkan waktu untuk membaca tulisan di blog yg sederhana ini :)