Dahulu
aku melalui hariku dengan bahagia, penuh tawa. Angin selalu berhembus sejuk,
menerbangkan dedaunan. Menjadikan
daun-daun itu seolah menari-nari ditengah sinar sang mentari, tetap setia dengan cahayanya
yang selalu menerangi hari demi hari, yaa
apapun
yang akan terjadi. Rintikan hujan
yang menari diatas aspal membuatku merasa nyaman. Kicauan burung yang merdu senantiasa menemani langkahku.
Senyum tulus dan bahagia yang selalu menghias hariku.
Namun entah apa yang terjadi, tanpa aku sadari kini
hari yang aku lalui terasa sangat kelam. Jalan yang aku lewati terasa sangat
menakutkan. Desiran angin membuatku sangat takut. Daun-daun yang berserakan
menciptakan suasana yang menyeramkan. Cahaya mentari terasa sangat panas, namun sinarnya terasa
kelabu. Hujan sangat deras menerjang tubuhku. Suara burung.. menyeramkan.
Semuanya telah berubah!! Benar-benar berubah dan aku tidak mengerti, ada apa dengan dunia ini.
Senyuman berganti dengan tangisan dan kebahagiaan berganti dengan kesedihan.
Tak ada daya
yang dapat aku lakukan. Aku harus berjalan terus, melewati hari-hari yang terus berubah. Zaman ini
membuatku lebih sering menangis tanpa sebab. Kini hanya malam sunyi dan gelap
yang setia menemaniku. Suara-suara jangkrik selalu menemani ketakutanku. “Ya
Allah.. Apa yang terjadi dengan dunia ini?” pertanyaan yang selalu melintas
diqalbuku.
Aku berjalan, melangkah, dan berlari.. Diujung jalan yang
kelam dan ditengah riuhnya hujan, aku melihat sahabatku. Aku senang, senang
sekali. Aku berlari kearahnya dengan sisa keberanianku.
Namun semakin dekat, semakin dekat aku melihatnya, semakin lemah pula
langkahku. Aku melihat ia dengan orang yang bukan mahramnya. Ia berjalan
berduaan ditengah rintiknya hujan. Ia bergandengan tangan dengan orang yang
bukan mahramnya. Ia mengenakan pakaian yang serba minim dan ketat. “Sahabatku?”
suaraku pelan dan meghilang ditelan suara hujan. Aku terdiam dan jatuh
bersimpuh seiring dengan hujan yang semakin lebat. Rasanya aku ingin berteriak
sekuat suaraku. “Ya Allah.... Ada apa ini?” air mataku menetes, tersamar oleh
hujan.
“Ya Allah,
bantulah aku bangkit dan lindungilah aku.” do’a yang selalu menemani langkahku.
“Ya Allah, aku
merasa kini setan-setan sedang tertawa. Rasanya mereka sangat senang mendapat
banyak teman yang akan menemani mereka.” Aku menatap langit yang semakin gelap.
Merasakan hawa yang sangat menakutkan. Aku merasa banyak orang sedang tertawa
disekitarku. “Aku tak tahan Ya Allah.. Ya Allah aku takut.” Aku berteriak dalam hati, hingga
aku tertunduk dan terus berjalan. Tanpa sadar aku telah
meneteskan air mata, kudekap tubuhku dengan ke dua tanganku yang lemah.
Aku masih
berjalan, namun semakin jauh aku melangkah jalan itu semakin kelam. Aku duduk
dan mendekap kedua kakiku yang mulai lemah dan merasakan lelah yang mulai menjalar keseluruh
tubuhku. Aku melihat orang-orang berlalu lalang. Mereka mengenakan pakaian yang
sangat tidak nyaman. Berjalan beduaan dengan orang yang bukan mahramnya.
Bergandengan dan berpelukan seakan-akan adalah hal yang biasa mereka lakukan
setiap hari. “Ya Allah..” ku tundukan wajahku. Aku termenung dan bingung dengan
semua ini.
Aku takut dengan
semua kenyataan yang kelam ini. Namun aku tak punya pilihan untuk terus
berjalan. Badai menerpa jiwaku. Topan memporahporandakan batinku. Pertanyaan
membuatku sesak. “Ya Allah.. aku bingung.” Aku pandang lagi sekitarku. Tak ada
yang berubah. “Ya Allah, apa yang terjadi dengan sahabat-sahabatku? Apa yang
membuat mereka menjadi seperti itu?” hatiku gelisah.
Hatiku semakin
sesak dan takut akan semua ini. Menghadapi zaman yang seperti ini. Menelusuri
jalan yang kelabu ini. Jalan yang sulit. Sinar mentari yang semakin kelabu.
Hujan yang semakin besar. Hembusan angin yang menakutkan. Tawa-tawa musuh yang
menyeramkan. Menyisakan sebuah pertanyaan “Ya Allah, kapan ini berakhir? Aku
takut Ya Allah. Dekaplah aku dengan cahaya-Mu. Lindungilah aku.” Kini jalan
yang aku lalui semakin kelam, gelap, sunyi dan menakutkan.
Jalan yang aku
lalui semakin menakutkan, tiap kakiku melangkah semua semakin menjadi. Jiwaku
tersentak untuk menghilangkan tawa disekitarku, tawa yang membuat hatiku takut,
tawa yang membuatku menangis. Aku ingin semua seperti dulu. Ketika dunia ini
cerah, sangat cerah. Perlahan tapi pasti aku mantapkan langkahku ke arah sahabat-sahabatku.
Aku tegur mereka dengan lembut. Namun jika aku hanya diam, dunia ini tidak akan
berubah. Aku ingin menyadarkannya. “Bismillah..” bisikku dalam hati. Aku
kepalkan tanganku “Ya Allah, hamba yakin pada-Mu. Lindungilah hamba-Mu yang
lemah ini.” Aku ucapkan dengan lembut. Aku berjalan menghampirinya.
“Sahabatku, apakah kamu seorang muslim?”
tanyaku lemah.
“Tentu saja aku muslim.” Jawabnya singkat.
“Sahabat, apakah kamu tau? Itu adalah
hal yang salah?” suaraku melemah.
“Apa maksudmu?” dengan nada tinggi. Aku
terkejut, menutup mata, aku takut. “Ya allah, hamba ikhlas, beranikan hamba-Mu
ini untuk melanjutkan ini. Aamiin” ucapku dalam hati. Aku buka mataku lagi dan
berusaha tetap tenang.
“Sahabatku, cara berpakaianmu itu salah,
aku yakin kamu tau! Fungsi pakaian dalam islam itu untuk menutup aurat.” Ia
hanya terdiam.
“Dalam islam tidak ada yang namanya
pacaran, bukan? Allah menyuruh kita untuk tidak berduaan dengan orang yang
bukan mahram kita.” Lanjutku.
“Sahabat, aku takut dirimu akan dibakar oleh api
neraka yang panas. Sahabatku, aku tidak mau kamu menjadi kawan dari setan-setan
itu sahabatku!” dengan nada yang tinggi dan berlalu, menyembunyikan air mata.
Aku kembali
melanjutkan perjalananku. Hatiku sudah sedikit tenang, semoga tawa yang
mengganggu jiwaku segera menghilang, beserta semua ketakutanku. “Ya Allah,
semoga mereka tersadar, aku serahkan semuanya kepada-Mu”, bisikku dalam hatiku
yang mulai tenang. Semoga hari-hari yang bahagia bisa kembali lagi. Bersamaku,
bersama kami semua. Tanpa jutaan ketakutan. Tanpa deraian air mata. “Ya Allah,
semoga mereka tersadar, dan kembali ke jalan-Mu. Peluklah kami dengan
sayap-sayap-Mu. Kembalikan kami ke cahaya-Mu.”
Ketika aku
melalui jalan itu, aku lihat mereka mulai mengenakan jilbab. Berpakaian
sebagaimana kiranya. “Subhanallah.. Alhamdulillah Ya Rabbi.” Air mataku menetes
bahagia, bersujud dan megucap syukur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar