Inilah jalan yang ternyata harus aku lalui. Hati terus
bergemuruh menolak keadaan yang ada, tapi apalah dayaku. Ini sudah menjadi
keputusan dan kehendak Yang Maha Kuasa. Aku harus menjalaninya, apapun yang
terjadi itulah takdir.
Jalan yang penuh dengan daun berguguran, sudah keringkah
daun-daun itu? Atau mungkin juga karena suhu udara yang mulai tidak stabil,
dimana musim akan berganti? Ya merekalah yang menjadi saksi atas setiap cerita
yang akan terjadi. Menjadi saksi kepiluan hatiku.
Semakin aku menolak semua ini dengan pikiran-pikiran
negativeku, maka alampun seolah memberi reaksi atas semua pikiran ini. Inilah
masa dimana otakku penuh dengan keluhan-keluhan yang tidak berarti dan tidak
merubah keadaan ini. Terbayang semua hal yang mungkin akan aku alami. Oh, tidak
aku telah mendahului kehendak Allah, dengan prasangka buruk tentang hal ini.
“Haruskah aku terus seperti ini?” mataku sama sekali tidak mampu menatap
gerbang hijau sekolah, mata ini hanya tertuju pada batu-batu kecil yang menemani
langkah kaki, menyusup dicelah-celah aspal.
Sang surya seakan mengerti akan kemelut hati yang menolak
keadaan, hati yang berat menerima keadaan. Cerita ini terukir karena
ketidakterimaan hati. “Lalu untuk apa perjuanganku tempo hari? Kemarin? Dan
saat ini?” tidak ada yang mengerti memang, entahlah aku seolah kehilangan
kebahagiaanku. Dunia menjadi kelabu. Dan menghitam. Seolah akan berakhir.
Jalan, terus berjalan. Saat orang lain berlari mengejar hal
yang mereka inginkan aku tidak tertarik sama sekali. Aku rasa berjalan saja
sudah cukup untuk menyesali hal ini. Motivasi apa yang aku miliki hingga ada
disini, tidak ada, memang tidak ada, hanya karena aku tidak mau membuat kedua
orangtuaku kecewa. Aku menyembunyikan semua kekecewaanku di depan keluargaku,
semua keluh kesahku, aku kubur dalam-dalam. Ya, mungkin aku adalah orang yang munafik dengan kondisi ini. Aku tidak
jujur pada hati ini.
Tiba-tiba munculah
yang mungkin ujian pertamaku ada disini, “Bisakah aku melalui ini?” gumam hati.
Ada orang yang mampu menasehatiku, agar aku mampu menerima ini semua, ia mampu
merubah duniaku menjadi penuh warna, bunga-bunga menjadi bermekaran, tapi
rayuannya sudah membuatku lupa. Entah apa yang aku rasakan, mungkin aku
menyukai dia, mungkin, mungkin dan hanya mungkin itulah pertama kalinya aku
tidak mengerti perasaanku. Hari yang kulalui mulai terasa sangat berwarna.
“Saat aku menemui secercah cahaya kebahagiaan.. Kenapa harus memudar begitu
saja? Dan aku tidak dapat berbuat apa-apa… Ya Rabb..”
Entahlah aku tidak mengerti apa yang dia pikirkan, atau
mungkin aku hanya ke-GR-an. Hingga tibalah
saat Ujian akhir semester ganjil, saat aku mengetahui bahwa dia juga ternyata
dekat dengan temanku. “Apakah aku hanya dijadikan ‘alat’?” otakku kembali
dijejali prasangka buruk. Dan hujanpun turun menemaniku yang tengah menangis.
Pikiran-pikiran buruk terus menghantui. “Dan masalahnya kenapa harus saat UAS?”
hatiku kesal. Mungkin temanku itu tau kedekatanku dengan dia dan mungkin juga
temanku itu sudah mulai menyukainya. Temanku selalu berusaha memancingku untuk
jujur akan hal itu. “Ya Rabb lindungilah hamba-Mu yang lemah ini.” Aku hanya
mampu berdo’a seperti itu tiap kali aku lihat ‘motif’ temanku itu. “Haruskah
aku menghadapi 2 ujian ini? Tentu! Karena aku mampu.” Sakit memang, karena itulah
jatuh cintaku yang pertama kalinya dan aku kecewa. “Cukup sudah, berakhir.”
Hati ini berusaha menghapus luka. Aku hanyalah seorang remaja yang tengah
dilanda kelabilan jiwa.
“Akankah aku menjadi angin yang tetap berhembus walau banyak
orang yang tidak mengharap hembusannya? Akankah aku bisa menjadi sang surya
yang setia menyinari dunia, walaupun orang-orang mencercanya? Ya.. aku harus
banyak belajar tentang keikhlasan. Saatnya bangkit.”
Saat aku terbangun dari mimpi malam yang setia menemaniku
kala malam datang, aku harus menghadapi kenyataan yang tidak aku inginkan.
“sudahlah open your mind, friend.” Ucap temanku, aku hanya mampu termangu
mendengarnya.
“iya inilah saatnya merubah dunia yang gelap ini dengan
cahaya!” “aku suka semangatmu.” Jawab temanku dengan penuh senyum.
Aku mulai bisa menumbuhkan bunga yang lama tidak aku siram,
bunga kebahagiaan. Hari demi hari aku lalui kini dengan penuh canda tawa
bersama teman-temanku, yang akhirnya adalah sahabat bagiku. Waktu terus
berjalan aku kini mulai mengerti makna aku ada disini. Namun kebahagian itu
tidaklah berlangsung lama. Saat orang itu datang lagi padaku. “Hai..” 3 huruf
yang tertulis di pesan singkat darinya. Dan lagi-lagi aku tertipu oleh manisnya
kata-kata orang itu, dan lagi-lagi sakit hati itu melanda. Ingin rasanya aku
terjun dari air terjun tertinggi di dunia ini. Kenapa harus terulang dan kenapa
aku harus jatuh ke lubang yang sama.
Hal itu menumbuhkan kembali kekecewaan dalam diri ini.
Membangkitkan mimpi-mimpi buruk yang lama aku buang. “sudah cukup! aku tidak
ingin ada kontak lagi dengannya, terserah dan aku tidak peduli. Sudah perih
hati ini olehmu.” Tangisan hati. “bukalah pikiranmu, jangan memikirkan hal-hal
negative untuk kehidupanmu. Aku mengerti jatuh untuk yang kedua kalinya akan sulit
terobati. Tapi kamu bisa bercerita padaku apa masalahmu?” ujar temanku, Nayla.
“Aku rasa tidak perlu, Nay. Aku masih bisa menahannya,
makasih atas perhatian darimu.” Jawabku.
Ya, memang sulit untuk aku obati hingga masalah ini terbawa
kemana-mana. Kesetiap hal yang aku lakukan. Ini lebih parah. Aku menjadi sosok
yang super pendiam karena masalah ini, mungkin aku berlebihan. Lalu dimana letak
kesalahannya? Aku sudah membuka pikiran ini, memikirkan hal yang positif, tapi
mengapa belum cukup.
Kala itu hujan turun, sore hari, terpancar keindahan suasana
sore yang penuh kemilau cahaya sang surya yang kembali ke peraduaanya, yang
dibalut hujan gerimis yang seolah mengajakku bermain. Saat itulah aku teringat
makna surah An-Nahl ayat 101-103. Bahwasannya Allah mengetahui apa ynag
bermanfaat dan yang sesuai pada suatu masa.
Ternyata hujan itu menyadarkanku. Tidaklah cukup aku membuka
pikiran dengan hal-hal yang positif, tapi aku juga harus membuka hati.
Mempelajari kelapangan hati, mempelajari makna ikhlas dan mempraktekkannya,
walaupun berat. Menerima keadaan aku saat ini, bersyukur kunci yang selama ini
tidak aku sadari. Belajar dari alam yang tidak pernah sakit hati saat
orang-orang tidak mengharapkan mereka. Tapi belajar ikhlas, karena semua yang
terjadi adalah kehendak Allah. Tawakal dan qanaah, hal yang aku lupakan.
“Astaghfirullah.. ada apa dengan aku selama ini? Bukankah daun-daun yang
berguguran adalah kehendak-Nya. Lalu kehidupan yang aku alami juga bukankah itu
kehendak-Nya. Bukankah ini takdirku? Untuk apa aku mengeluhkan keadaan? Yang
ada aku harus berjuang dengan keadaan ini, jalan yang aku pilih, yang mungkin
bisa membahagiakan orangtuaku, mewujudkan harapan orangtuaku. Ada hikmah dan
cita-cita yang tersembunyi dari semua ini. Jangan hanya open your mind, tapi
juga open your heart!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar