Kamis, 14 Agustus 2014

Sebatas Surat dari Hati



Inilah ujian pertama disemester ini yang harus segera aku atasi. Kenapa saat aku ingin menjaga hati ini agar tidak selalu berprasangka, kalian datang menyebut-nyebut namaku tanpa memberitahukan apapun itu. Apapun yang kalian bicarakan tentang diri ini, kesalahan diri ini, kelemahan diri ini. Kenapa tak kalian beritahukan secara langsung pada diri ini, agar hati dan pikiran ini tenang, tidak membiarkan sesuatu hal yang buruk ada mengelilingi jiwa ini.
Sejujurnya saja aku ingin tenang menjalankan jenjang pendidikan di sekolah ini. Namun kenapa aku selalu dihadapkan pada masalah yang seperti ini. Kawan, saudaraku, sahabaku…. Aku memiliki sebatas surat yang ingin hati ini sampaikan dan tangan ini tuliskan. Semoga kalian mengerti.
“Kawan, saudaraku.. jujur saja hati ini selalu meronta-ronta kala kalian menyebut nama ini, lalu menyembunyikannya dari diri ini. Hati ini memaksa pikiran ini untuk mengetahuinya, namun raga ini menolak. Dan membiarkan waktu berjalan dan menjawab semua yang kalian bicarakan.
“Kawan, saudaraku… diri ini bukanlah ingin menjadi sosok yang individualis, diri ini ingin selalu berkelompok menghadapi perbedaan-perbedaan diantara kita. Diri ini hanyalah seonggok daging yang ingin terlengkapi segala kekurangannya dengan adanya kalian.  Diri ini hanya ingin belajar dari kalian, memperhatikan segala hal yang baik, memperbaiki perangai diri ini yang tak sempurna.
“Kawan, saudaraku… diri ini hanya ingin kalian motivasi saat jatuh dan kalian ingatkan saat berdiri. Diri ini sangat menyadari betapa banyaknya salah yang diperbuatnya. Namun diri ini hanyalah aliran darah yang membutuhkan waktu untuk belajar menyadari kesalahan dengan dalam dan waktu untuk memperbaikinya. Karena diri ini hanyalah sekuncup bunga yang ingin mekar dengan indah, namun rapuh dan selalu dilumuri kesalahan.
“Kawan, saudaraku… hati ini hanyalah suatu anugerah dari Sang Pencipta, untuk merasakan segala hal yang terjadi. Hati ini mampu melihat sorot mata kalian yang menyembunyikan sesuatu dari diri ini. Cahaya yang diisaratkan oleh mata kalian. Namun, sering membuat hati ini menaruh prasangka.
“Kawan, saudaraku… pernah satu malam aku memimpikan kalian. Disana kalian membicarakan sesuatu. Namun aku tidak kalian ijinkan untuk mengetahunya. Diri ini hanya mampu berkawan dengan angin. Berharap sang angin menyampaikan apa yang kalian bicarakan. Diri ini hanya bernaung dibawah langit yang biru. Berharap sang awan datang melukiskan apa yang terjadi. Diri ini hanya mampu bercermin di samudera. Berharap sang gelombang datang membantu bangkit diri ini.
“Kawan, saudaraku… sakit hati ini saat kalian membicarakan diri ini. Perih, bagai tertusuk jarum, namun tumpul. Terpukul kayu yang keras.
“Kawan, saudaraku.. apalah daya diri ini, kalian tak mengerti apa yang aku hadapi. Bukan diri ini tak memperjuangkannya, namun diri ini telah lelah menjelaskannya. Sehingga membuat mulut ini bungkam dan hanya membisu. Entah apa yang harus aku sampaikan agar kalian mengerti jiwa ini.
“Kawan, saudaraku… angin pernah berkata pada hati ini. ‘Berhembuslah bersamaku. Ikhlaskanlah segala hal yang terjadi, Allah tidak tidur. Lukislah garis senyum di wajahmu. Tutupilah kesedihan yang kau rasa. Kuburlah kepedihan yang menyayat hatimu. Berhembuslah… biarkan waktu berlalu… teruslah bermuhasabah.’ Samudera biru akan terus membentang berwarna biru hingga kehendak Allah datang.
“Kawan, saudaraku… maafkanlah kesalahan diri ini. Maafkanlah kelemahan diri ini. Diri ini hanyalah debu-debu diantara kalian. Diri ini hanyalah kerikil kecil diantara kalian. Akan terhempas saat kalian datang. Hati ini hanyalah bunga. Yang akan patah saat kalian mengisaratkan tentang diri ini. Bantulah aku, agar aku dapat menjadi lebih baik. Agar hati ini tidak terus menangis. Agar pikiran ini tidak terus ditimpa beban berat.
“Mungkin ini hanya salah hati ini, salah pikiran ini yang selalu diajarkan untuk mengartikan bahasa isarat yang kalian sampaikan. Bantulah aku, do’a telah aku panjatkan. Ikhtiar telah aku usahakan.. Aku mohon bantulah aku, agar aku lebih baik………..”

2 komentar:

  1. tulisannya bagus bermuhasabah melalui tulisan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah, terimakasih kak :)
      terimakasih juga karena telah bersedia meluangkan waktu untuk membaca tulisan di blog yg sederhana ini :)

      Hapus