Mega mulai kelabu, guntur terdengar besahutan, suhu udara turun drastis. Perjalanan pulang masih terlampau panjang, aku rindu pada hangat sang surya di sebelah timur, aku rindu pada senja yang berwarna jingga. Senyum manisnya masih terlukis jelas di balik kelopak mataku, sebuah senyum syahdu yang mengharapkan kami semua berkumpul diatas tanah yang mulai memerah, dengan batuan yang apik ditata alam, berkumpul seperti pohon yang melingkupi jalan, saling menyapa dibantu sang angin.
Jalanan berbelok dan menanjak adalah sahabat baikku. Kesendirian inipun tidak lepas dari perjalanan hidup. Tring.. tring... bunyi ponsel di tasku. "Mamah" gumamku. 'Cepat pulang, ada hal penting yang harus mamah sampaikan..' tubuhku bergetar seolah telah tersambar petir hari itu, angin tidak lagi ada dipihakku, ia mulai berlari dan berlari, pepohonan mulai berbisik menakuti kalbu. Pikiranku mulai terbang, entah apa yang akan terjadi, aku mulai merasa dingin dan takut.
Sukmaku mulai melayang, pikiranku tidak tentu arah, langkahku mulai setengah berlari. Ya Rabb ada apa ini? Hanya itu yg terucap dalam gemuruhnya angin hari ini, jantungku berdegup kencang. Butiran keringat dingin membasuh jiwa. Berlarilah.... bisikan itulah yang aku dengar dari qalbuku. Jilbab putihku bukan lagi dibelai angin, daun-daun yang jatuh, terlihat tidak menghiasi jalan. Cemas, takut, gelisah, semua menjadi satu... Semakin jauh aku melangkah semakin aku rasakan bahwa tubuhku mulai lelah, langkah tidak dapat aku rasakan, seolah aku melayang, kepalaku mulai terasa berat seperti ditimpa benda berpuluh-puluh kilogram. Tas punggung yang setia memelukku erat semakin memberat.
Aneh, hari ini sangatlah aneh. Tiba-tiba banyak sekali orang yang berlalu lalang, angkutan umum sesak oleh berpasang-pasang mata. Berjam-jam aku berdiri, tidak satupun kendaraan umum yang lewat. Nafasku mulai memberat, rasa khawatir semakin mendalam. Kala aku lihat ponsel putihku yang sudah melemah baterainya, 11 panggilan tidak terjawab. Astaghfirullah.. ternyata sejak aku merasakan beratnya kepala dan kakiku ini ada yg menelponku. Mamah, kakak perempuanku, dan ayahku ? Ternyata sejak tadi mereka menghubungiku, tapi bagaimana ini ? Jalanan terlalu sesak, kendaraan umum yang aku butuhkan selalu penuh. Mungkin aku harus berlari lagi...
Angin mulai menghampiri, mendorong tubuhku yang lunglai, gejolak hati tidak kunjung reda, jalanan terasa sangat sesak, udara tidak bersahabat. Lari.. lari.. dan berlari.. mengejar jawaban yang ada di rumah hangat milik kami.
Pertanyaan orang-orang tidak lagi aku hiraukan. Dalam benakku hanya ada kata berlarilah.. kejarlah.. aku lelah, angin selalu mengombang-ambing tubuhku. Mega mendung menghiasi langit. Sang surya tidak nampak mungkin ia malu. Cepatlah, aku harus melangkah lebih cepat. Tanjakan demi tanjakan aku lalui, lelah mulai mendera, melekat erat dalam darahku, pundakku terasa amat sangat sakit, pandanganku kabur, gelap.. gelap.. teramat gelap.
Tubuhku ambruk terbanting ditanjakan terakhir menuju rumah, jalanan yang rimbun pepohonan, tidak ada lalu lalang kendaraan roda empat, hanya kendaraan roda dua yang berkejar-kejaran.
"Hei.. hei.. itu lihat.. cepat tolong!" hanya suara dan langkah kaki yang banyak yang aku dengar samar lalu sedikit demi sedikit sunyi... senyap..
"Adek ?" Suara lembut mengalir melalui udara menuju telingaku.
"Dimana aku?" Lirihku. Tempat yang terlampau putih, pas bunga menghiasi ruangan itu, sebuah sofa di sudut kanan. Kepalaku pusing, kaki dan tanganku sangat lemah. Aku pegang erat kepala ini sambil memfokuskan mataku. Seorang wanita berbaju putih menghampiriku dengan senyum lembut. Aku menengok ke tangan kananku yang terasa aneh, selang infus jawab hatiku.
"Adek sudah baikan? Tubuhmu sangat lemah." Ujar wanita itu yang ternyata adalah seorang dokter.
"Tadi warga kemari mengantarmu, mereka bilang kamu jatuh pingsan dijalan." Lanjutnya.
"Tapi..." ucapku lemah.
"Tapi?"
"Aku harus segera pulang!" Ujarku seraya melepas jarum infus di tanganku dan bergegas.
"Tapi kondisimu lemah, kamu harus menunggu sebentar. Untuk memulihkan kondisimu." Ucapnya dan dengan cekatan ia menangkap tanganku.
"Ada hal yang lebih penting yang ha.."
"Pikirkan dulu kesehatanmu, tubuhmu sangat lemah." Potongnya dan tidak membiarkan aku bicara lagi.
"Setelah ini saya antar kamu pulang.."
"Tapi harus sekarang." Jawabku mengiba.
"Baiklah.. tapi kamu harus tetap menggunakan infusmu."
Dokter itu memasang kembali infus ditanganku. Lalu melepaskan kaitannya pada sebuah besi panjang dan merangkulku menuju mobilnya. Mobil putih itu sangat bersih, didalamnya terdapat berbagai perlengkapan, mungkin dokter yang tidak aku ketahui namanya ini menyukai warna putih. Ia berjilbab panjang, wajahnya lembut penuh kasih sayang.
Sepanjang jalan aku hanya terdiam, menatap aspal yang tengah aku lalui, aneh dokter itu tidak menanyakan dimana rumahku, namun aku hanya terdiam, menatap langit yang semakin kelabu namun hujan tidak kunjung turun, angin masih terus berkejar-kejaran menggugurkan dedaunan yang ia lalui, gerungan suara kendaraan seolah hanya lagu pilu yang disampaikan, gelisah hati tidak kunjung reda.
Tidak lama, nampaklah sebuah rumah sederhana bercat oranye, dengan hiasan bunga-bunga hias yang namapk layu, iya.. hari ini entah kenapa aku lupa menyiramnya sebelum berangkat sekolah tadi. Itulah rumah tempat kami berlindung dari cuaca yang menerpa. Gorden birunya mulai lusuh tertiup angin melambai kepadaku agar lebih cepat, namun cat oranye itu menyala seolah menatap syahdu dengan kekuatannya, bunga-bunga bergoyang lemah.
"Assalamu'alaikum.." Lirihku lemah kala aku mencapai pintu bercat merah marun itu. Namun, mataku nanar melihat banyak orang disana.
"Wa'alaikumussalam.." Jawab mereka serentak.
Ibu dan kakak perempuanku berlari lalu memelukku. "In, kakekmu, nak.. kakekmu.." Ibuku menangis tersedu-sedu, aku hanya terdiam mematung di pintu, air mataku tidak terbendung lagi. Yaa... seandainya aku bisa lebih cepat, mungkin aku akan sempat berbicara walau satu kata kepadanya.. pedih sekali rasanya, air mata membasahi pipi, angin membiarkan jilbab putihku berkibar, isak tangis memenuhi ruangan, dokter itupun tidak henti-hentinya meminta maaf karena menahanku di rumah sakit terlalu lama. Kaki melangkah mendekat.. tumpahlah semua kesedihan ini..
Kakek, engkau selalu mengajak kami bermain, sebuah permainan tradisional selalu kau kenalkan, sebuah tatapan lembut selalu kau lukiskan, sebuah senyuman hangat selalu kau berikan. Ketangguhanmu selalu kau contohkan pada kami, ketaatanmu selalu mengingatkan kami. Rindu kami ucapkan dari do'a semoga kau bahagia disisi-Nya.
Air akan selalu mengalir disungai hingga kelautan..
Awan selalu berjalan kala angin menggandengnya..
Pelangi selalu datang saat surya bertemu hujan..
Burung selalu terbang mengikuti angin hingga lelah dan istirahat..
Do'a kami insyaa Allah akan selalu mengalir..