Dibawah naungan hujan, aku terduduk
manis bersama secangkir teh hangat. Mengarungi lautan kebingungan kehidupanku,
saat aku kalut dan terbayang sosok-sosok kawanku yang berpapasan denganku
disekolah tadi, cahaya itu melukiskan ada masalah dalam diri mereka. Senyumpun
tak sedikitpun terlukis, membuat hati ini pedih, membuat pikiran ini melayang
dalam prasangka. Namun, hujan gerimis membawa aku berenang dalam samudera
kenangan. Aku pandangi jalan diluar, penuh dengan hilir mudik, sesak. Aku tersenyum
kala melihat anak-anak kecil dengan gembiranya berlari, menari-nari dengan
hujan.
Padang rumput hijau menjadi saksi.
Meminta kaki ini segera melangkah bermain bersama hujan. Aku tersenyum sendiri
menatap tingkah laku anak-anak itu. Hujanpun memanggilku untuk segera bermain
bersamanya. Akhirnya aku menyerah, beranjak dari kursiku yang nyaman. Menutup
komputer kesayanganku, dan berlari keluar.
Aku hirup dalam-dalam udara kenyamanan
jiwa ini kala air hujan menbasahi tubuh ini. Menikmmati setiap tetes air hujan
yang turun menerpa lembut tubuh ini. Aku bentangkan tangan ini, menengadah
menjadi wadah air hujan. Sungguh sangat menenangkan jiwa. Semua beban telah
terlepas. Sejuk, segar, pikiran ini terasa ringan. Mungkin orang yang tengah
berlalu lalang menatapku aneh, penuh curiga, atau mungkin… Ah, sudahlah. Kalian
rasakan saja bahwa hujan itu menenangkan, bukan dingin. Akupun membuka mata.
Bermain bersama anak kecil yang tengah menikmati hujan ini.
Tawa menghiasi diri. Berlari,
mengejar, bersembunyi…
“Apa kamu tidak takut mamahmu
marah?” tanyaku menghampiri anak yang tengah berlari-lari memegang tanganku
untuk melangkah lebih jauh. Anak itu tersenyum lalu menggeleng.
“Benarkah?” ucapku bingung.
“Iya. Aku yakin, kak. Lagipula aku
ingin bermain sejenak, kak.” Jawabnya tersenyum.
Aku hanya mampu
membalasnya dengan senyum juga.
Dia
masih mengandengku, hingga ujung jalan. Disana telah berdiri seorang wanita
dengan jilbab berwarna biru lembut. Ia tersenyum padaku dan berlari menghampiri
anak yang tengah bersamaku.
“Mamah…” teriak anak itu.
“Mari pulang, nak… Kamu sudah
bermainkan dengan kakak ini?” ujarnya lembut, seraya mengusap rambutnya yang
basah. Anak itu mengangguk dengan gembiranya. Dan aku tersenyum manis
kepadanya.
***
Keesokan hari, hujan gerimis kembali
turun. Ditempat yang sama, aku menikmati hujan. Aku memperhatikan anak-anak
yang bermain disana. Namun ada yang berbeda, anak itu, anak yang bersamaku
kemarin tak ada disana. Disana hanya ada
beberapa anak yang aku jumpai kemarin. Aku terkejut, dan bertanya-tanya.
“Apakah anak itu sakit, karena aku mengajaknya bermain terlalu lama? Aku bahkan
tak mengetahui namanya. Ya Allah…” hatiku khawatir.
“Aku harus menemuinya.. dan meminta
maaf…” aku beranjak berdiri dan seketika berlari ketempat kemarin ia dijemput.
Ternyata benar, wanita yang menjadi ibunda anak itu tengah berdiri disana. Kala
ia melihat kehadiranku, ia berlari dan menghampiriku. Sambil membawa sebuah
amplop berwarna merah muda ditangannya.
“Anakku menitipkan ini untukmu. Ia
tak bisa bermain lagi denganmu, walaupun sebenarnya ia ingin sekali…” ucapnya
sambil berusaha menahan air mata namun tak bisa.
“Apa yang terjadi?” tanyaku
bingung.
“Bacalah dan engkau akan
mengetahuinya.. aku harus pulang.. assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsalam.. tapi….” Ia berlari
saat aku belum selesai menyusun huruf untuk menanyakan nama anaknya.
Akhirnya aku kembali, pulang.
Mengganti pakaian yang tengah basah kuyup ini. Terduduk diatas ranjang kamarku.
Memandangi amplop yang aku terima tadi. Ppikirkupun melayang jauh, terbang ke
angkasa. Perllahan aku buka amplop itu. Didalamnya ada surat dengan kertas
berwarna biru muda yang dihiasi tulisan yang rapi untuk ukuran anak SD.
Disana tertulis…..
“Hari ini saat hujan gerimis menemaniku….
Kakak yang baik hati, terimakasih kakak sudah
mau bermain denganku. Hari ini aku sangat gembira dapat bertemu dengan kakak.
Kakak cantik dan baik, kakak tau? Teman-temanku, tak pernah ada yang ingin
bermain denganku. Mereka bilang aku penyakitan. Mereka bilang aku tidak boleh
bermain dengan mereka. Aku hanya dapat bermain dengan hujan dan daun-daun hijau
yang mau menerimaku. Kakak terimakasih pelukan kakak masih terasa ditubuhku.
Sentuhan tangan kakak yang lembut, membekas ditanganku. Kini aku mendapatkan
teman dan kakak yang baik dan cantik seperti kakak. Kak, kakak mau kan jadi
temanku? Jadi kakakku? Kata mamah kakak
pasti mau. Benarkan? Kakak hujan itu
sangat menenangkan. Kata ayah kita akan tenang saat kita dapat ikhlas akan apa
yang terjadi pada kita. Kakak kata ayah aku harus ke singapura. Dimana sinapura
itu kak? Apakah itu tandanya aku tidak dapat bermain dengan kakak lagi? Kak,
aku takut. Kalau aku ke rumah sakit, aku pasti disuntik dan aku pasti akan
muntah berwarna sama seperti obat yang aku makan. Aku takut, kak. Kakak aku
ingin bersama kakak tidur bersama dikamarku. Tapi ayah bilang kakak pasti sibuk
dengan pekerjaan kakak. Kak, aku percaya kakak akan bermain lagi denganku. Kak,
aku ingin kakak peluk dan bermain lagi. Aku belum tau siapa nama kakak. Tapi
aku punya yang lebih baik. Aku akan memanggil kakak, kak mawar. Karena kakak
cantik. Kata ayah besok aku akan berangkat…. Do’akan aku ya kak, aku sayang
kakak…
Wassalam.
Nita “
Surat ini Nita tulis saat ia pulang bermain
bersamamu… Nita sakit dan dokter bilang usianya sudah tak lama lagi. Kami
berterimakasih karena kamu mau bermain dengannya. Sekarang Nita telah berangkat
ke Singapura. Kami mohon untuk menghubungi Nita.. karena ia sangat
mengharapkannya.. 087822xxxxxx terimakasih. Kamu wanita yang baik .. kami yakin
kamu akan mendapatkan seseorang yang baik, dan segala hal yang baik..
bersabarlah, ikhlaslah akan kepedihan, kehidupan yang harus dijalani…
Terimakasih..
Akhirnya aku mengetahui namanya. Tapi aku hanya dapat
menerka dan mendo’akan ia atas penyakitnya. Dan aku selalu menangis kala aku
baca surat darinya.
Hingga hari ini aku belum menemuinya kembali… Aku hanya
dapat berbalas pesan singkat dengannya. Walau aku tak tau, siapa yang
membalasnya. Akupun masih menunggunya, bermain bersama hujan, sambil terus
berharap bahwa angin membawanya bermain bersamaku. Namun aku yakin bahwa ia
akan sembuh.