Surya mulai tenggelam, bersama alunan lembut sang angin dan cahaya jingga yang berpendar indah. Burung-burung berbisik menceritakan harinya, kupu-kupu bersembunyi di balik dedaunan. Hiruk pikuk manusia mulai menurun. Cahaya jingga itu menatap sang awan lalu berkata tulislah kisah malam ini. Satu per satu bintang dipanggilnya. Sang bulan pun tidak luput dari senyumnya.
Cahaya malam yang indah. Menyelimuti lamunan di sebuah desa kecil. Sebuah rumah panggung berdinding kayu dengan atap dari dedaunan pohon kelapa yang dianyam rapi. Tanah lapang yang dihiasi obor menatap syahdu sang bulan. Langkah kaki anak kecil menjadi musik sendu kala itu. Bruk... ada yang jatuh. Semua mata terbelalak, hati berdegup kencang, langkah tersendat, tenggorokan haus. Angin menerpa seluruh sukma. Sebuah kelapa tua.
Semua tertawa dan kembali bernyanyi, berlari, berkejaran. Bermain permainan tradisional. Alangkah indah. Sang purnama tersenyum. Lampu obor menari diterpa angin. Rumput hijau tidak pernah marah walaupun diinjak. Bunga kecil tidak pernah risau walaupun dipetik. Harum malam batik semerbak. Anak kecil berlarian, mengejar harum malam batik itu.
Bintang-bintang masih tersenyum, satu per satu anak kecil itu menguap. Pulang dari permainan mereka. Malam semakin larut, gesekan daun kelapa menjadi musik pelepas rindu. Dingin menyeruak dari sela-sela dinding kayu. Purnama semakin terlelap, hingga adzan berkumandang. Kembali anak-anak kecil itu berlarian ke arah rumah panggung semalam. Menggelar sajadah mereka, bertumpu pada sujud memohon hari yang bahagia. Satu per satu anak maju, membaca ayat-ayat cinta dari Sang Pencipta.
Kilau sang surya menari-nari dipantulkan air yang jernih. Cahaya oranye itu bercampur baur dengan cahaya hijau sang embun. Anak-anak itu kembali berlari. Meniup satu per satu obor disana. Lalu kembali bermain. Angin membelai mereka. Anak-anak perempuan kembali ke pelukan ibu mereka, sekadar membantu mengepel dan mencuci. Anak-anak laki-laki berlarian ke arah sungai, menenggelamkan diri dalam kehangatan tawa. Menangkap ikan. Ya, itulah mereka.
Hari demi hari berlalu. Hanya angan yang tetap melayang jauh ketengah samudera rindu. Malam ini aku merindu. Rindu yang sunyi, sangat senyap.
"Dyah.." sebuah suara yang membangunkanku dari angan kerinduan. Ya, aku Dyah begitu aku dipanggil. Dyah Arum. Kini aku tengah beranjak dewasa. Aku tinggal disebuah desa kecil di sudut kota. Rumah bercat biru laut dengan hiasan bunga-bunga merah yang harum.
"Iya, bu.." jawabku bergegas ke arah ruang keluarga.
"Bantu ibu menyelesaikan ini!" Pinta ibu sambil menyerahkan adonan kue tradisional. Aku hanya tersenyum seraya mengerjakannya. Setelah selesai aku bergegas beristirahat.
***
Adzan berkumandang, aku rindu alunan lembut ayat-ayat cinta Sang Pencipta dialunkan anak-anak itu. Aku rindu saat mereka bermain dan menarikku bersama mereka.
Matahari menyapa lembut. Hari ini, hari libur panjang, sepanjang jalan kerinduanku. Aku harus bergegas membantu ibu membawa kue buatan ibu yang khas kepada pemesan.
Aku keluar rumah dengan sepasang sendal berwarna merah jambu, rok hitam panjang, kemeja berwarna ungu dan kerudung yang selaras dengan warna baju yang aku kenakan. Sebuah tas anyaman berisi macam-macam kue aku pegang erat. Sepanjang perjalanan aku tatap hamparan sawah yang semakin membawaku larut dalam kerinduan.
Hari itu, jalanan selalu ramai orang-orang berjalan. Anak kecil bermain, terkadang mereka meminta kue yang aku bawa. Tanpa ragu aku selalu membagi kue kepada mereka. Lalu mereka berlarian memetik bunga kesukaanku.
Kini, jalanan telah sepi, kendaraan bermotor sesekali lewat. Angin menerpaku, kembali aku terbang.
Saat itu, selalu ada anak kecil yang bermain di sawah, mencari keong dan ikan untuk dimasak oleh ibunda mereka. Selalu ada mata yang aku tatap lalu menjelaskan kebahagiaan.
Namun, suasana telah berbeda, atmosfir telah berubah, kini semuanya sunyi. Anak-anak itu pergi, pergi ikut orang tua mereka ke kota besar. Hanya tersisa beberapa anak yang mulai sunyi untuk bermain.
Saat malam datang, aku tau sang bintangpun merindu. Rindu akan canda tawa. Saat siang menjelma, aku paham sang suryapun menyampaikan cahaya rindu. Saat angin berlari menerpa awan, aku melihat alunan kerinduan,