Hari-hari semakin berlalu. Saat angin berubah haluan dan saat hujan digantikan. Dedaunan berkibaran berwarna hijau, melambai-lambai menyapa setiap orang. Wajah langit kini berdasar biru cerah dengan setitik awan yang menunggu angin. Surya sudah tidak malu-malu lagi membagikan cahayanya, tumbuhan giat berfotosintesis, kupu-kupu tertarik untuk beterbangan berbaur dengan jenisnya yang lain, burung-burung dalam sangkar bernyanyi menyambut sang surya, merpati bergerombol terbang menuju arah selatan. Musim panas....
Seorang anak kecil berbaju merah muda, warnanya sudah lusuh, tingginya seperti anak kelas 4 SD pada umumnya, ia menatap sendu sang surya, kaki-kaki kecilnya mulai mempercepat langkahnya. Angin pantai menerpa dirinya, ombak berkejar-kejaran. Jejak kaki mungilnya mulai menghilang dihapus angin. Pohon kelapa melambai padanya, pohon bakau menari-nari, alam mengajaknya bermain, anak kecil itu hanya menunduk, memperhatikan ibu jari kakinya.
Sebuah hutan yang rimbun mulai nampak, alangkah hijaunya. Cahaya menyelip diantara celah-celah yang dibentuk pepohonan walau daunnya sesekali bergerak dan jatuh ke tanah. Anak-anak lain yang seusianya tengah bermain, membentuk istana pasir atau sekedar berenang di pesisir pantai. Cahaya hijau itu yang akan menemani langkah kaki anak kecil itu, menyusuri hutan, menemukan setapak jalan kecil untuk berlari. Angin berhembus mesra membelai rambutnya yang diikat satu dibelakang, menggoyangkan dedaunan.
Sang surya terus meninggi, anak kecil berbaju merah jambu lusuh itu masih tetap berjalan. Entah.. entah kemana ia ingin pergi. Entah.. entah siapa yang ingin dia temui. Tangan mungilnya menggenggam secarik kertas. Kertas yang mulai kusut, namun tetap ia genggam. Ia tidak mengijinkan angin untuk mengintip isi kertas itu. Digenggamnya dengan kuat. Tidak sepatah katapun terucap, ia tidak mendengarkan angin yang mengajaknya berbicara. Nyanyian burung tidak ia dengar. Bukan.. bukan karena dia tuli, ada sesuatu yang ia kubur, namun entah apa.
Langkahnya semakin masuk ke hutan yang rimbun itu, entah berapa lama waktu untuk menembus hutan itu menuju ke ujungnya. Entah ada apa disana, mungkin masih ada hutan yang lain, mungkin akan ada lautan, mungkin.. mungkin.. mungkin.. entahlah. Apa yang dipikirkan anak itu? Ia sama sekali tidak bahagia menyambut pergantian musim ini.
Semakin jauh, semakin dalam ia masuk ke hutan, semakin gelaplah suasana disana, semakin lembablah udara disana, semakin sunyilah disana, hanya ada kicau burung sesekali. Namun bunga tetap mekar dengan bahagia, kupu-kupu mengelilinginya, lebah menari diatasnya. Namun itu tidak membuat anak kecil ini tertarik untuk menyaksikannya. Hari semakin siang, sang surya telah merubah hangat menjadi panas, anak kecil itu menghentikan langkahnya, matanya berkeliling memperhatikan setiap sudut hutan dengan teliti, lalu tertuju pada sebuah pohon rimbun dan besar. Ia berjalan ke arah pohon itu, mendekatinya dengan langkah yang hati-hati dan pelan. Matanya fokus memperhatikan sekelilingnya. Ia kini ada didepan pohon itu, lalu terduduk lemah dan beristirahat. Matanya memejam, namun tangannya tetap memegang secarik kertas itu, lalu didekapnya kertas itu dan ia tertidur.
Apakah yang ia cari?? Mengapa ia begitu menjaga surat itu?? Terik matahari mulai berkurang menandakan hari mulai sore dan akan segera gelap. Dengan terburu-buru saat ia menyadari hal itu, ia pun berlari seperti berlomba dengan angin, kaki-kaki mungilnya menginjak tanah dan kerikil, dedaunan yang jatuh tidak membuatnya berhenti. Semakin kedalam, semakin sunyi. Lumut-lumut menghiasi tanah yang subur, jamur-jamur tumbuh dengan riang, angrek menjalar menggapai langit. Namun anak itu masih terus berjalan. Kemanakah ia akan pergi?
Langkah kakinya masih terus menapaki tanah, pohon demi pohon ia lewati, kumbang-kumbang ia hindari, kupu-kupu bingung akan tingkahnya yang tidak biasa. Dedaunan bertanya, ada apakah gerangan. Angin semakin penasaran akan isi kertas kecil itu. Hingga tanah makin lembab, ada sebuah pohon tumbang yang sudah menjadi rumah bagi lumut, jamur dan semut. Matanya terus berkelana. Namun ia masih belum berhenti.
Tidak ada yang tau apa yang ada di dalam hatinya. Hanya ia dan Rabb-nya yang tau. Raut wajahnya serius, tidak menampakkan apa yang sebenarnya terjadi. Saat langkahnya semakin kedalam, lebih jauh lagi, terlihatlah sebuah gubuk kecil sederhana. Di depan gubuk itu terlihat bekas perapian dan sebuah tempat memasak nasi. Danau luas terbentang di depannya. Airnya memantulkan berkas-berkas cahaya sang senja. Ikan-ikan berkejaran. Gubuk itu seraya rumah panggung yang terbuat dari susunan kayu berwarna khas, dengan sebuah tangga kayu tepat dekat pintu utama, yang apabila diinjak oleh tuannya menimbulkan bunyi berderit. Anak itu meniti tangga satu persatu, lalu mengetuk ringan pintu itu. Bunyi berderit terdengar tanda dalam gubuk itu ada seseorang. Seorang perempuan yang sudah udzur, rambut putihnya ditutupi kain bermotif bunga, lalu menyapa anak itu.
"Neng.." sapanya penuh bahagia. Seolah lepas semua ke khawatiran.
"Assalamu'alaikum, Nini..." anak itu memeluk wanita itu.
"Wa'alaikumsalam.."
Anak itu memberikan selembar kertas pada wanita yang ia panggil Nini. Lalu Nini membacanya dengan saksama. Mengerutkan dahinya, mengubah-ubah posisi kertas yang ada di tangan kanannya. Tangan kirinya setia memegang kerudung yang Nini kenakan.
"Neng tau, Ambu tidak pulang lagi, Ni.." ujarnya lemah, nampaklah kesedihannya. Terbongkarlah sudah, angin kini mengetahuinya, lalu berlari memberi kabar kepada pepohonan, kepada kumbang dan kupu-kupu tentang kesedihan anak itu.
"Neng.. sabar ya.. " ucap Nini dengan lembut lalu memeluknya hangat. Mengalirlah cairan bening dari mata Nini dan anak itu. Anak kecil itu melepaskan pelukannya lalu berlari sekuat-kuatnya. Nini menatapnya penuh kesedihan, dan terus duduk bersimpuh di depan pintu gubuk yang ternyata tempat mereka melepaskan semua perasaan dan ke gundahan, tempat yang mereka buat senyaman mungkin untuk berteduh dan menggelar sajadah.
Anak kecil itu terus berlari, berlari dan berlari. Dari matanya yang mungil terlihat aliran air mata yang deras membasahi pipinya. Hingga ia terjatuh dan sesegukan. Di depannya terdapat mawar putih yang lebat bunganya serta sangat harum semerbak mengundang kumbang datang.
"Ambu, sekarang mawarnya sudah berbunga banyak sekali, tapi kenapa Ambu masih belum pulang? Ambu bilang, Ambu akan pulang lalu merawat mawar putih ini bersama? Ambu...." ia menangis sejadi-jadinya, duduk bersimpuh menatap sang surya. Sang surya telah malu karena tidak mengerti isi hatinya. Kini langit mulai menggelap. Angin tidak lagi membelai lembut namun telah berlarian, burung-burung mengalunkan lagu sendu, awan menghitam. Anak itu masih menangis. Mawar putih di tengah hutan itulah saksi bisu tangisnya. Mawar putih yang selalu dirawat oleh seorang anak kecil yang berharap ia akan segera bertemu dengan Ambu.
Catt.
Neng : panggilan untuk anak perempuan di tatar Pasundan
Nini : Nenek
Ambu : Ibu