Jumat, 14 April 2017

Itu Keputusanmu

Aku tak tau apakah itu benar ataukah tidak? Aku tak pernah mendengarnya. Yang aku dengar hanyalah desisan angin. Aku tak bisa menyapanya bahkan berkata padanya, seandainya langit mendung itu bermakna cerah.

Pagi yang dingin ini memintaku untuk bangun, matahari belum terlihat, sang bulan mulai menguap, bintang-bintang berkedip cepat diantara hamparan langit biru tua itu. Angin mulai bermain-main dengan pepohonan. Aku penasaran apakah pohon itu kesal ataukah tidak. Daunnya yang hijau selalu berhasil digugurkan sang angin. Ia berterbangan mengikuti sang angin dan menghiasi tanah.

Matahari mulai malu-malu, cahaya oranyenya menyeruak memecah kegelapan. Sang bulan mulai lelap diperaduannya, cahaya sang bintang terkalahkan oleh sinar lembut matahari. Burung mulai ribut, entah apa yang mereka bicarakan.

Mataku tertuju pada dua orang anak kecil. Pagi buta seperti ini mereka sudah berlarian. Kaki-kaki mungil itu meninggalkan jejak diatas tanah hitam yang gembur. Mereka berjalan beriringan menembus hutan yang gelap. Baju yang mereka kenakan mulai kusam, dipadukan dengan tas kecil berisi sebuah buku, satu pensil dan penghapus. Ya, mereka tengah berjuang menghadapi hidup ini. Namun senyum mereka begitu manis dan ceria seolah beban itu tak ada. Bahagia sekali.

Bunga-bunga bermekaran, berpesta dengan sang kumbang. Merah, putih, merah jambu, semua warna menghiasi jalan kecil yang selalu ramai. Mereka tersenyum pada siapapun yang melalui jalan itu.

Saat matahari mulai sejajar di atas kepala, dua anak itu pulang. Disana ada seorang wanita yang mulai renta, dia berkata "Sekolahlah, agar masa depan kalian lebih baik." Sambil mengelus lembut rambut dua anak itu. Mereka tersenyum gembira, walau perjalanan ke tempat menimba ilmu sejauh mata memandang dengan fasilitas seadanya, mereka masih mau berjuang. Walaupun hidup mereka tak semudah dirimu. Akankah kau menyia-nyiakan kesempatanmu begitu saja? Akankah kau bermalas-malasan dengan kemudahan yang kau dapatkan? Begitukah? Itu keputusanmu.