Minggu, 03 Desember 2017

Saat Hujan Turun, Badai Datang

Kau yakin dunia tidak memihak padamu? Semua harapanmu kandas? Benarkah? Yakinkah? Bagaimana jika kamu salah? Atau bahkan benar? Baiklah.

Lalu, apa yang kau ucapkan saat hujan turun? Apa yang kau katakan saat matahari terik? Apa yang kau rasakan, seandainya tidak ada matahari? Tidak ada hujan? Baiklah.

Bagaimana jika kamu salah? Maksudku semua harapanmu itu. Harapan itu tidak pernah kandas sedikitpun, dunia itu baik. Dunia tidak memihakmu bukan berarti dunia jahat.

***

Lahir disebuah keluarga sederhana adalah anugerah bagiku. Disudut kota, rumah sederhana inilah yang menjaga kami dari serangan cuaca, juga menjadi saksi bisu akan segala tawa, tangis, amarah dan memaafkan. Semua terlahir begitu saja, mengikuti aliran air. Tanah yang ditanami berbagai macam sayuran dan tanaman hias, menjadi bukti bahwa inilah tempat yang subur. Ketika waktu berlalu, terus berjalan, atau bahkan berlari, banyak orang yang tidak sadar diri, mungkin juga aku?

Hari itu sangat cerah, langit biru terlihat jelas, angin sepoi-sepoi membelai siapa saja yang dilewatinya. Seandainya aku tau. Hal terberat adalah ketika aku harus memutuskan sesuatu hal yang harus aku putuskan, dengan semua desakan yang membuatku sesak. Layaknya seseorang yang diam di luar angkasa, oksigenpun tidak ada. Aku ingin berlari melupakan dunia, aku tidak ingin mengingatnya, itu terlalu banyak. Hal kecil yang aku inginkanpun harus aku buang jauh ke dasar samudera. Walau akhirnya akan aku temukan lagi ketika berlayar. Kini aku tidak tau kemana arah langkahku. Setiap saat aku termenung.

Jalan manakah yang harusnya aku tempuh? Sungguh semua ini adalah kebingungan yang menyesakkan. Mungkin aku butuh istirahat untuk kemudian berlari mengejar semuanya. Aku ingin mendekat.. mendekat sedekatnya.. ada perasaan yang tidak bisa aku jelaskan dan ada cinta yang selalu ingin aku usahakan.

"Dyah..." sebuah teriakan yang mengejutkanku.
"Yaa? Ada apa? Kenapa?" Jawabku cepat.
"Kebakaran......" ujar Sandy.
"Dimana?????" Tanyaku heran.
"Yasalam... sepolos itu kah kamu?"
"Memangnya ada a.."
"Ssstttt sudahlah lupakan." Sandy memotong ucapanku.
"Tapi San.."
"Stttttt ayo pulang."
"A...."
"Stttt udah udah ngga ada apa-apa haha." Tawanya.
"Dasar jahat.." ucapku.
Sandy hanya tertawa puas.

Aku menatapnya penuh keheranan. Ia menarikku begitu saja, akhirnya kamipun pulang bersama. Disepanjang perjalanan aku layangkan pandanganku ke langit menatap sang surya yang sangat menyilaukan. Seharusnya sekarang sudah masuk musim penghujan, lirih hatiku. Kembali aku tatap Sandy yang berjalan di depanku. Ada sesuatu yang ia sembunyikan, pandangannya berubah sejak hari itu. Ya, hari itu.

Rumah kami berjarak cukup dekat, hingga kami selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Terkadang orang menganggap kami seperti sepasang kekasih, sejujurnya saja, canda dan tawa yang selalu menghiasi perjalanan kami adalah sebatas hiburan antara kami, tidak ada yang lebih spesial dari persahabatan kami. Ia seolah kakakku yang selalu memaklumi kepolosan dan kekonyolanku, entah apa yang akan terjadi.

Hari berlalu, pagi demi pagi kami lalui, hingga bertebaranlah jadwal ujian akhir kenaikan kelas. Aku dan Sandy duduk di bangku kelas 11 sebuah SMA negeri favorit diwilayah kami. Dengan lingkungannya yang sejuk dan rimbun pepohonan, menyejukan mata yang meneguk pemandangannya. Mungkin bagi Sandy aku adalah sesosok wanita yang paling polos di sekolah itu. Banyak sekali siswi yang menyukai Sandy, selain pandai dan ya, menurutku cukup tampan tspi entahlah, ia juga pandai menyentuh hati dengan alunan suaranya ketika mengaji, tidak kaget juga bila ia memang memiliki suara yang indah saat menyanyi. Aku dan Sandy tidak satu kelas, aku memilih kelas IPA dan ia IPS, begitulah gurupun terkadang aneh kepada kami.

Hingga hari itu, aku lihat Sandy bertengkar dengan sekelompok orang yang tidak jelas darimana asalnya. Saat kami masih merupakan siswa/i kelas 10.

Sekolah mulai sepi, satu persatu insan yang ada didalamnya pulang terburu-buru. Gerimis... aku yang masih duduk di bangku kelasku terus mengutak-atik soal matematika, seraya menunggu Sandy. Sampai aku tidak menyadari sekolah sudah kosong dan handphone-ku berbunyi, yang aku sadari hanyalah gemercik air hujan yang mulai deras dan membuatku khawatir. Muncullah keinginan untuk menghubungi Sandy. Saat itu aku lihat sebuah pesan.
"Pulanglah duluan, sampaikan pada ibu dan ayahku, aku pulang terlambat." Apa? Tanyaku dalam hati. Lalu untuk apa aku menunggu selama itu? Akupun segera memasukan semua peralatanku dan dengan rasa marah serta kecewa aku keluar kelas. Berjalan melalui lorong-lorong sekolah yang gelap, hujan terus mengguyur. Aku sangat marah kepada Sandy, setega itu dia.

Saat aku menyusuri lorong sekolah, nampak sekumpulan orang di tengah lapangan upacara yang tidak begitu luas itu. Mereka melingkar dan seperti sedang berbicara sesuatu, aku ingin menghampirinya, siapakah orang yang sedang mereka marahi. Inikan sekolah bukan tempat adu kekuatan. Angin menerjang kencang, mendorongku untuk menjauh. Namun sama sekali tidak aku dengarkan, saat aku mulai mendekat, mereka menyadari keberadaanku, dengan seketika aku terdiam, menatap pasang mata itu. Lalu mereka mendekat ke arahku. Saat itulah aku tau ternyata mereka tengah berdiskusi. Apa? Di tengah lapang? Saat hujan? Apa mereka sudah kehilangan tempat untuk berdiskusi? Angin berlari melewati kami. Tiba-tiba, ada orang yang menarikku lalu berlari.
"Sandy....?" Tanyaku heran.
Ia tidak menjawab apa-apa, namun terus menarikku ke arah parkiran kendaraan dan membawaku pulang.
"Aku sudah bilang, agar kamu pulang dengan segera, apa kamu tidak paham?!" Ujarnya.
Aku terkejut seketika, tidak biasanya nada bicaranya seperti itu.
"Aku hanya penasaran.." jawabku lirih.
"Apa kamu tidak bisa menurut sekali saja? Haruskah?" Tak ada senyum seperti biasanya.
"Tapi San.."
"Cukup, mulai sekarang pulanglah duluan jangan pernah menunggu sekolah sepi."
Aku tidak mampu berkata apa-apa. Sandy, apa yang kamu sembunyikan? Tanya hatiku.

Sepanjang perjalanan pulang ia tidak berkata apa-apa, jiwanya yang ramah telah hilang entah kemana. Pikiranku melayang, apa yang sebenarnya terjadi. Hujan kian lebat, badanku menggigil. Sandy memang tidak biasanya sejak saat itu, kini ia begitu dingin pada semua orang. Walaupun secara akademik tak ada yang berubah, ia tetap siswa yang cemerlang, namun kalian tidak tau bahwa ia berubah, berubah semakin jauh dan jauh. Aku tidak mengerti.

Sejak hari itu ia menghilang, tidak pernah ada lagi kontak denganku. Aku menjalani hari yang begitu aneh, aku iri pada awan-awan yang berlarian bersama-sama walaupun salah satu dari mereka berubah. Aku iri pada bumi yang selalu mendapat cerita dan hangat dari sang surya. Hari demi hari ia semakin menjauh dan kian jauh. Apa yang harus aku lakukan.

Hari itu, saat burung-burung bernyanyi dengan gembira, saat bunga-bunga bermekaran, dan kumbang-kumbang menari dengan ceria. Sinar matahari mendekapku dengan lembut dan hangat. Tapi, ada apa dengan hatiku? Badai itu, ya badai itu masih memenuhi hatiku. Mungkin kantin tempat yang bagus. Yups. Ayo ke kantin.

Kakiku menyusuri jalan dan lorong ke kantin, ya, aku tidak sendiri, aku pergi bersama ketiga temanku, mereka tertawa, bercerita dan begitu hangat. Namun, hatiku telah membeku. Aku tertawa tapi tidak hatiku.

Angin mengalun lembut membelai pundakku. Saat itu aku lihat Sandy tengah duduk di lorong sekolah, ia melihatku namun tidak ada sepatah kata atau sekedar lambaian tangan. Sungguh ini keterlaluan. Teman kecilku, sahabatku telah hilang. Aku kesal, marah dan benci. Semudah itu kah ia melupakan kawannya sendiri? Baiklah, akan aku lakukan hal yang sama. Ingat itu.
***
Hah, apa yang terjadi. Setelah sekian lama aku sudah tidak mampu lagi menahan semuanya. Pada kenyataannya aku tidak mampu melakukan apa yang ia lakukan padaku. Pesta kelulusan tiba. Sekolah diliburkan, gedung besar itu dihias sedemikian rupa, dari sudut kiri ke kanan dipenuhi oleh hiasan-hiasan pesta. Panggung bak pelangi itu siap menyajikan hiburan yang meriah. Seluruh siswa berbicara perkara kuliah. Hah.. sudahlah. Aku sama sekali tidak bahagia. Bukan, bukan karena aku tidak diterima kuliah, aku sudah, hanya saja ada hal yang harus ku selesaikan. Kenapa dunia tidak memihakku?

Seketika itu mataku tertuju pada sesosok yang tengah berlari kencang, nafasnya menderu sesak. Tanah berguncang karena hentakan sepatunya. Jas yang ia kenakan begitu tidak beraturan.
"Sandy..." teriakku.
"Dyah.. mau kemana? Tunggu kamu tidak boleh pergi. Dyah kami mohon." Ujar temanku seraya memegang tanganku.
"Lepaskan. Sandy tunggu.." teriakku lagi, sambil berlari.
"Dyah.." teriak teman-temanku.
Langkahnya seketika berhenti, dengan susah payah aku berlari kearahnya, sepatu high heels ini membuatku jengah. Ia berbalik seraya memeluku.
"Maafkan aku.." air matanya membanjir.
"Aku tau kamu begitu membenciku, tapi aku mohon aku tidak bisa lagi, aku tidak sanggup lagi jangan membenciku, aku harus pergi." Tangisnya tidak berhenti.
"Apa maksu...." kataku terpotong, saat ia menarikku kebelakang tubuhnya. Dan dia menghadang anak-anak itu. Dan... ia masih bersih keras membelaku. Menarikku berlari sejauh mungkin.
Diujung jalan ini, dibawah pohon yang rindang ini. Ia berkata..
"Aku mohon, pergilah, jagalah dirimu baik-baik kamu tidak boleh terlibat, aku tidak ingin kamu celaka lagi. Suatu hari aku akan menjemputmu, tumbuhlah dengan cantikmu. Tunggulah aku."
"Pergilah.. biar ini menjadi urusanku." Sambungnya.
Ya, seperti yang aku tau, dia Sandy sangat populer, banyak primadona sekolah yang menyukainya, termasuk adik dari orang yang mengejarnya itu. Saat itu dia membelaku, saat berkelahi itu, ia menolongku. Saat itu aku tau, dia menjauh untuk melindungiku dari semua ini.
Terakhir aku tau, bahwa ketiga temankupun mengetahuinya. Kenapa hanya aku yang tidak tau? Bahaya yang mungkin menimpaku? Aku salah, aku telah jahat pada dunia. Dan aku salah telah membenci orang yang dengan tulus menjagaku. Maafkan aku~

Jumat, 14 April 2017

Itu Keputusanmu

Aku tak tau apakah itu benar ataukah tidak? Aku tak pernah mendengarnya. Yang aku dengar hanyalah desisan angin. Aku tak bisa menyapanya bahkan berkata padanya, seandainya langit mendung itu bermakna cerah.

Pagi yang dingin ini memintaku untuk bangun, matahari belum terlihat, sang bulan mulai menguap, bintang-bintang berkedip cepat diantara hamparan langit biru tua itu. Angin mulai bermain-main dengan pepohonan. Aku penasaran apakah pohon itu kesal ataukah tidak. Daunnya yang hijau selalu berhasil digugurkan sang angin. Ia berterbangan mengikuti sang angin dan menghiasi tanah.

Matahari mulai malu-malu, cahaya oranyenya menyeruak memecah kegelapan. Sang bulan mulai lelap diperaduannya, cahaya sang bintang terkalahkan oleh sinar lembut matahari. Burung mulai ribut, entah apa yang mereka bicarakan.

Mataku tertuju pada dua orang anak kecil. Pagi buta seperti ini mereka sudah berlarian. Kaki-kaki mungil itu meninggalkan jejak diatas tanah hitam yang gembur. Mereka berjalan beriringan menembus hutan yang gelap. Baju yang mereka kenakan mulai kusam, dipadukan dengan tas kecil berisi sebuah buku, satu pensil dan penghapus. Ya, mereka tengah berjuang menghadapi hidup ini. Namun senyum mereka begitu manis dan ceria seolah beban itu tak ada. Bahagia sekali.

Bunga-bunga bermekaran, berpesta dengan sang kumbang. Merah, putih, merah jambu, semua warna menghiasi jalan kecil yang selalu ramai. Mereka tersenyum pada siapapun yang melalui jalan itu.

Saat matahari mulai sejajar di atas kepala, dua anak itu pulang. Disana ada seorang wanita yang mulai renta, dia berkata "Sekolahlah, agar masa depan kalian lebih baik." Sambil mengelus lembut rambut dua anak itu. Mereka tersenyum gembira, walau perjalanan ke tempat menimba ilmu sejauh mata memandang dengan fasilitas seadanya, mereka masih mau berjuang. Walaupun hidup mereka tak semudah dirimu. Akankah kau menyia-nyiakan kesempatanmu begitu saja? Akankah kau bermalas-malasan dengan kemudahan yang kau dapatkan? Begitukah? Itu keputusanmu.

Jumat, 01 April 2016

Maafkan Aku

Hari ini sangat cerah. Nyanyian sang kumbang begitu merdu, garis cahaya sang surya menyentuh lembut. Namun entah aku tak tau apa yang membuat hati ini begitu teriris. Jika memang inilah jalan takdir Tuhan, mungkin aku harus tersenyum. Sayangnya aku malah tersedu-sedu. Aku tau kau kecewa atas diriku. Aku tau, sesungguhnya akupun berharap ini tak pernah terjadi. Kita mungkin akan saling menjauh, entah bagaimana. Akankah Tuhan kiranya sudi mempertemukan kita walaupun dalam ikatan yang lain, agar kita dapat saling memaafkan.
Ijinkan aku menyampaikan apa yang terjadi. Sejujurnya sejak tadi pagi aku menangis, entah apa yang harus aku lakukan. Saat aku berkata "sekarang aku tak mau menangis lagi" sebenarnya aku tengah tersedu-sedu seolah aku telah kehabisan oksigen. Mataku tak berhenti mengeluarkan tetesan air. Hatiku ingin bersamamu.
Apakah ini akan kembali seperti dulu lagi? Sayangnya mungkin tidak akan pernah. Dari sudut ini aku hanya dapat menatapmu dari sebuah alunan do'a. Semoga dirimu akan baik-baik saja disana. Kini aku benar-benar sendirian. Maafkan aku berkata seperti itu, aku tak ingin menjadi sebuah beban yang dalam untukmu. Seandainya langit berubah menjadi gelap aku ingin harapan itu musnah. Sudah tak ada jalan pulang.
Kaulah sosok yang paling baik yang pernah aku temui. Walaupun hanya berawal dari sebuah pertemuan sepele. Namun kau begitu peduli, aku masih mengingatnya. Hal sekecil itupun yang telah Tuhan atur untuk sebuah pertemuan. Teruslah menjadi pribadi yang hangat. Aku tak pernah tau perpisahan ini mengapa seperti ini.
Berbahagialah engkau di jalan sana. Aku disini mendo'akanmu. Meskipun kau telah menghapus ingatanmu akan aku. Terimakasih atas segala kesabaranmu. Kamu harus bahagia, bukan terbebani oleh keluh kesah cerita kepiluan diriku yang selalu kau dengar. Maafkan aku.
Dan inilah sebuah keputusan yang aku tau akan menyakitkan. Maafkan aku, hanya itu yang dapat aku katakan. Teruslah menjadi pribadi yang hangat.




Instagram : @lisnawati891
Twitter : @inaichinose
Facebook : www.facebook.com/ina.lisnawati.7

Silahkan tunggu untuk konfirmasi pertemanan atau kirim pesan ke akun Line : inalisnawati16 ^_^

Senin, 28 Desember 2015

Alunan Kerinduan

Surya mulai tenggelam, bersama alunan lembut sang angin dan cahaya jingga yang berpendar indah. Burung-burung berbisik menceritakan harinya, kupu-kupu bersembunyi di balik dedaunan. Hiruk pikuk manusia mulai menurun. Cahaya jingga itu menatap sang awan lalu berkata tulislah kisah malam ini. Satu per satu bintang dipanggilnya. Sang bulan pun tidak luput dari senyumnya.
Cahaya malam yang indah. Menyelimuti lamunan di sebuah desa kecil. Sebuah rumah panggung berdinding kayu dengan atap dari dedaunan pohon kelapa yang dianyam rapi. Tanah lapang yang dihiasi obor menatap syahdu sang bulan. Langkah kaki anak kecil menjadi musik sendu kala itu. Bruk... ada yang jatuh. Semua mata terbelalak, hati berdegup kencang, langkah tersendat, tenggorokan haus. Angin menerpa seluruh sukma. Sebuah kelapa tua.
Semua tertawa dan kembali bernyanyi, berlari, berkejaran. Bermain permainan tradisional. Alangkah indah. Sang purnama tersenyum. Lampu obor menari diterpa angin. Rumput hijau tidak pernah marah walaupun diinjak. Bunga kecil tidak pernah risau walaupun dipetik. Harum malam batik semerbak. Anak kecil berlarian, mengejar harum malam batik itu.
Bintang-bintang masih tersenyum, satu per satu anak kecil itu menguap. Pulang dari permainan mereka. Malam semakin larut, gesekan daun kelapa menjadi musik pelepas rindu. Dingin menyeruak dari sela-sela dinding kayu. Purnama semakin terlelap, hingga adzan berkumandang. Kembali anak-anak kecil itu berlarian ke arah rumah panggung semalam. Menggelar sajadah mereka, bertumpu pada sujud memohon hari yang bahagia. Satu per satu anak maju, membaca ayat-ayat cinta dari Sang Pencipta.
Kilau sang surya menari-nari dipantulkan air yang jernih. Cahaya oranye itu bercampur baur dengan cahaya hijau sang embun. Anak-anak itu kembali berlari. Meniup satu per satu obor disana. Lalu kembali bermain. Angin membelai mereka. Anak-anak perempuan kembali ke pelukan ibu mereka, sekadar membantu mengepel dan mencuci. Anak-anak laki-laki berlarian ke arah sungai, menenggelamkan diri dalam kehangatan tawa. Menangkap ikan. Ya, itulah mereka.
Hari demi hari berlalu. Hanya angan yang tetap melayang jauh ketengah samudera rindu. Malam ini aku merindu. Rindu yang sunyi, sangat senyap.
"Dyah.." sebuah suara yang membangunkanku dari angan kerinduan. Ya, aku Dyah begitu aku dipanggil. Dyah Arum. Kini aku tengah beranjak dewasa. Aku tinggal disebuah desa kecil di sudut kota. Rumah bercat biru laut dengan hiasan bunga-bunga merah yang harum.
"Iya, bu.." jawabku bergegas ke arah ruang keluarga.
"Bantu ibu menyelesaikan ini!" Pinta ibu sambil menyerahkan adonan kue tradisional. Aku hanya tersenyum seraya mengerjakannya. Setelah selesai aku bergegas beristirahat.

***
Adzan berkumandang, aku rindu alunan lembut ayat-ayat cinta Sang Pencipta dialunkan anak-anak itu. Aku rindu saat mereka bermain dan menarikku bersama mereka.

Matahari menyapa lembut. Hari ini, hari libur panjang, sepanjang jalan kerinduanku. Aku harus bergegas membantu ibu membawa kue buatan ibu yang khas kepada pemesan.
Aku keluar rumah dengan sepasang sendal berwarna merah jambu, rok hitam panjang, kemeja berwarna ungu dan kerudung yang selaras dengan warna baju yang aku kenakan. Sebuah tas anyaman berisi macam-macam kue aku pegang erat. Sepanjang perjalanan aku tatap hamparan sawah yang semakin membawaku larut dalam kerinduan.
Hari itu, jalanan selalu ramai orang-orang berjalan. Anak kecil bermain, terkadang mereka meminta kue yang aku bawa. Tanpa ragu aku selalu membagi kue kepada mereka. Lalu mereka berlarian memetik bunga kesukaanku.
Kini, jalanan telah sepi, kendaraan bermotor sesekali lewat. Angin menerpaku, kembali aku terbang.
Saat itu, selalu ada anak kecil yang bermain di sawah, mencari keong dan ikan untuk dimasak oleh ibunda mereka. Selalu ada mata yang aku tatap lalu menjelaskan kebahagiaan.
Namun, suasana telah berbeda, atmosfir telah berubah, kini semuanya sunyi. Anak-anak itu pergi, pergi ikut orang tua mereka ke kota besar. Hanya tersisa beberapa anak yang mulai sunyi untuk bermain.
Saat malam datang, aku tau sang bintangpun merindu. Rindu akan canda tawa. Saat siang menjelma, aku paham sang suryapun menyampaikan cahaya rindu. Saat angin berlari menerpa awan, aku melihat alunan kerinduan,

Senin, 21 September 2015

Edisi Cinta Campur-campur

Cinta adalah sebuah kata yang ambigu untukku. Arti cinta sangatlah beragam tergantung orang yang memandangnya. Aku sendiripun terkadang bingung harus mengartikannya sebagai apa. Jelaslah semua butuh ketulusan, sebagaimana arti cinta dari sosok wanita yang menjadi malaikat di dunia ini, siapa lagi kalau bukan seorang ibu. Cinta ibu adalah cinta yang mengalir sepanjang hayat.
Hatiku takut dan bergetar kala aku melihat sesuatu, rasanya aku ingin menangis, kapan aku bisa berubah sepenuhnya? Menjadi pribadi yang baik, aku takut kala membaca qalam-Nya saat azab-azab pedih yang akan ditimpakan, tapi akupun tanpa sengaja melakukan kesalahan yang sama.
Lupa, ya.. lupa adalah sebuah anugerah, karena apa? Menurutku dengan adanya lupa kita mampu melupakan semua kesalahan orang lain sehingga kita terus mampu memaafkan, namun sayangnya saat kita berbuat seribu kebaikan, hal itu akan hancur karena satu keburukan.
Entah apa yang menjadi pandangan orang-orang, bukankah melakukan kesalahan itu wajar? Karena manusia tidak sempurna dan membutuhkan bimbingan bukan judge yang tidak jelas.
Kawan, aku bertemu dengan sosok-sosok yang sangat menerima kondisiku, yang tidak mencariku dimasa laluku. Inikah? Sebuah ketulusan seorang teman? Walaupun wajah sama sekali tidak pernah saling memandang, namun ketulusan mereka selalu terasa. Walaupun dengan sedikit kekhawatiran dan ketakutan akan apa yang aku alami saat bersama kalian.
Aku memiliki pertanyaan untuk kalian kawanku. Kawan apakah saat aku melakukan sebuah kesalahan kalian men-judge-ku dengan aneh? Atau mungkin saat aku jatuh kalian mendapatkan penilaian yang menyakitkan untukku? Apakah kalian menjauh? Kawan? Aku hanya berharap kalian adalah kawan yang sesungguhnya yang tidak peduli seberapa dalam aku jatuh, tapi kalian akan terus memotivasiku untuk bangkit? Akan kah kalian melakukan itu? Aku percaya arti cinta yang tulus. Jika kalian memang tidak ingin lagi behubungan denganku, biarlah aku tetap meminta kalian untuk membimbingku mendekat kepada Rabb-ku, walau tanpa kalian sadari.
Ada yang mengatakan 'Lupakanlah semua kejahatan orang-orang kepadamu, dan ingatlah selalu kebaikannya. Serta lupakanlah semua kebaikanmu kepada orang lain tapi ingatlah keburukanmu kepada mereka.'
Aku yakin bahwa cinta menyelimuti sesama jiwa kita. Walaupun tidak sebesar cinta seorang ibu kepada anaknya, tapi aku berharap bahwa cinta itu terus tulus dan ada bersama kita. Bolehkah? :) tolong jangan pergi dan menjauh dan tolong kalian yang barupun tetap menjadi kawanku.

Kamis, 10 September 2015

Inilah Bait ke-18 Tahun

Malam memang gelap, tapi malam sangatlah indah. Orang-orang mengibaratkan kesedihan dengan awan kelabu, tapi aku pikir kesedihan itu adalah hal yang gelap dimana aku tidak dapat melihat lagi keindahan-keindahan yang akan terjadi, saat hatiku meronta dan tidak akan pernah ada yang tau. Bukan gelap sang malam yang dihias bintang atau awan mendung dan hujan. Tapi gelap dimana aku berteriak tidak akan ada lagi orang yang mendengarnya selain diriku sendiri serta Tuhan. Jeritanku adalah angin sunyi sang malam, yang diam-diam meronta namun tidak nampak. Orang bilang, dihargai sangatlah indah serta dapat meningkatkan percaya diri.
***
Aku bertemu sang hujan, anginnya yang kencang mengobrak-abrik seluruh hal yang dilaluinya, bak topan yang paling ganas. Seolah mentari tidak ingin lagi bersinar, rasa lelah, hanya rasa lelah yang menyelimutinya. Mentari itu tidak ingin berbicara karena dia selalu diabaikan. Mungkin aku hanyalah setangkai bunga kecil di jalan raya, tidak dihargai dan hanya dilalui bahkan nyaris terinjak. Sakit, namun aku tidak bisa berteriak karena aku hanya setangkai bunga kecil yang tidak nampak.
Hingga suatu saat ada seekor semut yang menghampiriku, menyemangatiku, dan tanpa peduli keluh kesahku. Ia mampu menatap jeritan hatiku saat daun di tangkaikupun tidak mampu lagi. Ia bercerita bahwa ia sangat 'payah', kata-kata yang mungkin kasar untukku walaupun aku hidup dijalanan ini.
"Kau tak seharusnya berkata seperti itu!" Tegasku padanya.
"Tapi itulah kenyataannya." Lirih sekali suaranya.
"Kenyataan apa? Kau tidak patut bicara begitu." Ucapku.

Untunglah itu hanya rangkaian huruf, bukan bahasa mataku. Jeritan hati yang aku sembunyikan justru membuatku sangat gelisah. Aku hanya mampu menangis kala itu. Entah.. entah siapa yang akan mengerti bahwa aku hanya ingin dihargai bukan disalahkan. Terkadang aku berpikir yang mungkin cukup gila. 'Untuk apa aku dilahirkan dan hidup? Apakah aku bagian dari tokoh cerita ini? Yang aku tau, aku hidup untuk mati dan menjalankan kehidupan setelahnya.'
Penghargaan? Mungkin aku nyaris tidak pernah tau rasanya. Bagaimana rasanya saat kamu dihargai? Didengar? Dihormati? Disayangi? Yang aku tau hanya air mata, takut dan gelap. Aku hanya hapal sebuah perasaan dimana aku dibedakan, disisihkan. Hingga aku takut sekali memperlihatkan bakat yang ada dalam diriku. Sebuah ketidak percayaan diri. Tanganku terlalu lemah untuk menggandeng mereka, langkahku mungkin terlalu lamban. Aku tidak mengerti dengan kehidupan ini.
Sejujurnya, aku ingin mengungkapkan semua yang aku rasakan, dimana hati terasa tabu, udara terasa menusuk-nusuk. Bolehkah aku bertanya? Dimanakah qalbu setiap manusia untukku? Tuhan, cerita apakah yang Engkau sediakan untukku yang sangat lemah dan penuh dengan dosa. Aku tidak pernah sanggup mengatakannya, mengatakan apa yang aku rasakan dan apa yang aku inginkan.
Tuhan, aku yakin Engkau tidak pernah lelah mendengar keluh kesahku. Akupun yakin Engkau sedih ketika melihatku menangis, namun Engkau yakinkan aku untuk terus berjuang menapaki sisa jalan hidupku.
Pantaskah aku? Di bait ke delapan belas tahun puisiku ini aku berkata seperti ini? Maafkanlah aku, Tuhan. Yaa Rabbi, ampuni aku, karna aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Justru orang diluar keluarga kandungkulah yang mendukungku, walaupun aku tidak pernah tau ketulusan mereka tapi semoga mereka benar-benar tulus Yaa Rabbi. Bukan karna merasa tidak enak padaku. Terimakasih Yaa Rabbi kala aku mulai merasa lelah, Engkau hadirkan mereka.
Terimakasih Yaa Rabbi, kala tangkaiku melemah, Engkau datangkan hujan.
Terimakasih Yaa Rabbi, kala aku merasa kesepian, Engkau hadirkan semut untuk menemaniku.
Terimakasih Yaa Rabbi, kala sang daun menjauh, Engkau datangkan kumbang.
Terimakasih Yaa Rabbi, dibait kedelapan belas tahun ini semoga menjadi jalan indah dibait tahun mendatang.

Senin, 31 Agustus 2015

Orang Asing yang Tidak Asing

Sudah lama.. aku ingin berbagi.

Sungguh hidup ini penuh kejutan, dan kejutan terindah adalah saat aku menemukan orang-orang yang bersedia bertahan bersamaku dalam keadaan sesulit apapun. Telah lama berjalan menapaki semua tanah yang subur dan gersang hingga lelah kini sirna, mereka hadir penuh kasih sayang. Saat semua sifat serta sikapku yang aneh mereka terima dengan lapang dada, saat tangisku membanjiri dunia mereka hadir penuh motivasi, saat hatiku menjerit memecah lautan mereka hadir merangkulku.

Ya Rabb, sungguh indah cara-Mu mempertemukan kami. Memeluk kami untuk saling menyemangati dan merangkul. Kuatkanlah ikatan hati kami walaupun wajahpun kami tidak saling mengenal. Tapi aku merasa bahwa mereka bukan orang asing. Saat mereka berkata "Yakinlah bahwa rencana Allah lebih indah" aku tersadar. Saat kawanku yang sudah jelas aku kenal pergi menjauh, Engkau pertemukan aku kepada mereka, dengan penuh kasih sayang.

Yaa Rabb, saat kekecewaan menyayat hati kami, buatlah ikatan ini semakin kuat, buatlah kami semakin mendekat dan lebih dekat lagi pada-Mu.

Aku ingin menangis penuh penyesalan, ya.. penyesalan yang tidak kunjung sirna dimana semua kebodohanku yang menganggap dunia tidak adil tanpa melihat berjuta kasih sayang-Mu Ya Rabb.

Aku telah salah membiarkan kekecewaan menyelimuti, aku tersentak, aku tersadar, semua hal yang pergi akan terganti. Rencana Rabb-ku lebih indah dan itu benar. Biarlah Allah yang menjawab semuanya, yaa.. entah itu sebuah pertanyaan, hinaan, cacian, cinta, persahabatan dan segalanya.

Terimakasih Yaa Rabb..
Terimakasih mamah..
Terimakasih ayah..
Terimakasih kakak-kakakku..
Terimakasih kawan-kawanku..

Aku kini tau orang-orang yang benar-benar menyayangiku..

Terimakasih Yaa Rabb..
Terimakasih Mamah.. Ayah.. Aa.. Teteh..
Terimakasih kawan-kawanku yang telah lama aku kenal..
Terimakasih kawan baruku... Kalian orang asing tapi tidak asing kata hatiku.