Sabtu, 16 Agustus 2014

Diantara Hujan



Dibawah naungan hujan, aku terduduk manis bersama secangkir teh hangat. Mengarungi lautan kebingungan kehidupanku, saat aku kalut dan terbayang sosok-sosok kawanku yang berpapasan denganku disekolah tadi, cahaya itu melukiskan ada masalah dalam diri mereka. Senyumpun tak sedikitpun terlukis, membuat hati ini pedih, membuat pikiran ini melayang dalam prasangka. Namun, hujan gerimis membawa aku berenang dalam samudera kenangan. Aku pandangi jalan diluar, penuh dengan hilir mudik, sesak. Aku tersenyum kala melihat anak-anak kecil dengan gembiranya berlari, menari-nari dengan hujan.
Padang rumput hijau menjadi saksi. Meminta kaki ini segera melangkah bermain bersama hujan. Aku tersenyum sendiri menatap tingkah laku anak-anak itu. Hujanpun memanggilku untuk segera bermain bersamanya. Akhirnya aku menyerah, beranjak dari kursiku yang nyaman. Menutup komputer kesayanganku, dan berlari keluar.
Aku hirup dalam-dalam udara kenyamanan jiwa ini kala air hujan menbasahi tubuh ini. Menikmmati setiap tetes air hujan yang turun menerpa lembut tubuh ini. Aku bentangkan tangan ini, menengadah menjadi wadah air hujan. Sungguh sangat menenangkan jiwa. Semua beban telah terlepas. Sejuk, segar, pikiran ini terasa ringan. Mungkin orang yang tengah berlalu lalang menatapku aneh, penuh curiga, atau mungkin… Ah, sudahlah. Kalian rasakan saja bahwa hujan itu menenangkan, bukan dingin. Akupun membuka mata. Bermain bersama anak kecil yang tengah menikmati hujan ini.
Tawa menghiasi diri. Berlari, mengejar, bersembunyi…
“Apa kamu tidak takut mamahmu marah?” tanyaku menghampiri anak yang tengah berlari-lari memegang tanganku untuk melangkah lebih jauh. Anak itu tersenyum lalu menggeleng.
“Benarkah?” ucapku bingung.
“Iya. Aku yakin, kak. Lagipula aku ingin bermain sejenak, kak.” Jawabnya tersenyum.
 Aku hanya mampu membalasnya dengan senyum juga.
                Dia masih mengandengku, hingga ujung jalan. Disana telah berdiri seorang wanita dengan jilbab berwarna biru lembut. Ia tersenyum padaku dan berlari menghampiri anak yang tengah bersamaku.
“Mamah…” teriak anak itu.
“Mari pulang, nak… Kamu sudah bermainkan dengan kakak ini?” ujarnya lembut, seraya mengusap rambutnya yang basah. Anak itu mengangguk dengan gembiranya. Dan aku tersenyum manis kepadanya.
***
Keesokan hari, hujan gerimis kembali turun. Ditempat yang sama, aku menikmati hujan. Aku memperhatikan anak-anak yang bermain disana. Namun ada yang berbeda, anak itu, anak yang bersamaku kemarin  tak ada disana. Disana hanya ada beberapa anak yang aku jumpai kemarin. Aku terkejut, dan bertanya-tanya. “Apakah anak itu sakit, karena aku mengajaknya bermain terlalu lama? Aku bahkan tak mengetahui namanya. Ya Allah…” hatiku khawatir.
“Aku harus menemuinya.. dan meminta maaf…” aku beranjak berdiri dan seketika berlari ketempat kemarin ia dijemput. Ternyata benar, wanita yang menjadi ibunda anak itu tengah berdiri disana. Kala ia melihat kehadiranku, ia berlari dan menghampiriku. Sambil membawa sebuah amplop berwarna merah muda ditangannya.
“Anakku menitipkan ini untukmu. Ia tak bisa bermain lagi denganmu, walaupun sebenarnya ia ingin sekali…” ucapnya sambil berusaha menahan air mata namun tak bisa.
“Apa yang terjadi?” tanyaku bingung.
“Bacalah dan engkau akan mengetahuinya.. aku harus pulang.. assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsalam.. tapi….” Ia berlari saat aku belum selesai menyusun huruf untuk menanyakan nama anaknya.
Akhirnya aku kembali, pulang. Mengganti pakaian yang tengah basah kuyup ini. Terduduk diatas ranjang kamarku. Memandangi amplop yang aku terima tadi. Ppikirkupun melayang jauh, terbang ke angkasa. Perllahan aku buka amplop itu. Didalamnya ada surat dengan kertas berwarna biru muda yang dihiasi tulisan yang rapi untuk ukuran anak SD.
Disana tertulis…..
“Hari ini saat hujan gerimis menemaniku….
Kakak yang baik hati, terimakasih kakak sudah mau bermain denganku. Hari ini aku sangat gembira dapat bertemu dengan kakak. Kakak cantik dan baik, kakak tau? Teman-temanku, tak pernah ada yang ingin bermain denganku. Mereka bilang aku penyakitan. Mereka bilang aku tidak boleh bermain dengan mereka. Aku hanya dapat bermain dengan hujan dan daun-daun hijau yang mau menerimaku. Kakak terimakasih pelukan kakak masih terasa ditubuhku. Sentuhan tangan kakak yang lembut, membekas ditanganku. Kini aku mendapatkan teman dan kakak yang baik dan cantik seperti kakak. Kak, kakak mau kan jadi temanku? Jadi kakakku?  Kata mamah kakak pasti mau. Benarkan?  Kakak hujan itu sangat menenangkan. Kata ayah kita akan tenang saat kita dapat ikhlas akan apa yang terjadi pada kita. Kakak kata ayah aku harus ke singapura. Dimana sinapura itu kak? Apakah itu tandanya aku tidak dapat bermain dengan kakak lagi? Kak, aku takut. Kalau aku ke rumah sakit, aku pasti disuntik dan aku pasti akan muntah berwarna sama seperti obat yang aku makan. Aku takut, kak. Kakak aku ingin bersama kakak tidur bersama dikamarku. Tapi ayah bilang kakak pasti sibuk dengan pekerjaan kakak. Kak, aku percaya kakak akan bermain lagi denganku. Kak, aku ingin kakak peluk dan bermain lagi. Aku belum tau siapa nama kakak. Tapi aku punya yang lebih baik. Aku akan memanggil kakak, kak mawar. Karena kakak cantik. Kata ayah besok aku akan berangkat…. Do’akan aku ya kak, aku sayang kakak…


Wassalam.
Nita “
Surat ini Nita tulis saat ia pulang bermain bersamamu… Nita sakit dan dokter bilang usianya sudah tak lama lagi. Kami berterimakasih karena kamu mau bermain dengannya. Sekarang Nita telah berangkat ke Singapura. Kami mohon untuk menghubungi Nita.. karena ia sangat mengharapkannya.. 087822xxxxxx terimakasih. Kamu wanita yang baik .. kami yakin kamu akan mendapatkan seseorang yang baik, dan segala hal yang baik.. bersabarlah, ikhlaslah akan kepedihan, kehidupan yang harus dijalani… Terimakasih..

Akhirnya aku mengetahui namanya. Tapi aku hanya dapat menerka dan mendo’akan ia atas penyakitnya. Dan aku selalu menangis kala aku baca surat darinya.
Hingga hari ini aku belum menemuinya kembali… Aku hanya dapat berbalas pesan singkat dengannya. Walau aku tak tau, siapa yang membalasnya. Akupun masih menunggunya, bermain bersama hujan, sambil terus berharap bahwa angin membawanya bermain bersamaku. Namun aku yakin bahwa ia akan sembuh.

2 komentar:

  1. Another inspiring story :), mengingatkan pada realita masa lalu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih :) kami sangat senang atas waktu luang kakak untuk membaca di blog kami :) semoga bermanfaat ^^

      Hapus